Saling Membantu jika Mobil Ngadat di Jalan

575
KOMPAK: Anggota Suzuki Forsa Community Indonesia (SFCI) chapter Joglosemar saat gathering di Masjid Agung Jawa Tengah. (istimewa)
KOMPAK: Anggota Suzuki Forsa Community Indonesia (SFCI) chapter Joglosemar saat gathering di Masjid Agung Jawa Tengah. (istimewa)
KOMPAK: Anggota Suzuki Forsa Community Indonesia (SFCI) chapter Joglosemar saat gathering di Masjid Agung Jawa Tengah. (istimewa)

Para pencinta mobil tua merek Suzuki Forsa di Jogja, Solo dan Semarang cukup kompak. Mereka tergabung dalam Suzuki Forsa Community Indonesia (SFCI) chapter Joglosemar. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

PUNYA mobil tua harus siap dipusingkan dengan mesin ngadat atau kerusakan lain. Termasuk kesulitan mencari suku cadang atau spare part. Ini juga dialami para pemilik mobil Suzuki Forsa yang rata-rata keluaran 1985-1990 atau sudah berusia hampir 30 tahun.

Namun hal itu tidak perlu dirisaukan jika bergabung dengan Suzuki Forsa Community Indonesia (SFCI) chapter Jogja, Solo Semarang (Joglosemar). Komunitas ini punya persatuan yang kuat, lantaran di mana pun berada, mereka dapat saling berkomunikasi dengan anggota lain di berbagai daerah untuk memberikan bantuan jika mobil ngadat.

”Tujuan membentuk komunitas ini memang ajang membantu sesama. Selain itu, menjadi tempat klangenan bagi penggila mobil tua Suzuki Forsa keluaran 1985-1990,” kata Ketua SFCI chapter Joglosemar, Novian Kristanto, usai acara gathering di Masjid Agung Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Novian mengatakan, komunitas tersebut dibentuk sejak 2012 lalu sebagai tempat untuk bertukar informasi dan menjalin hubungan kekeluargaan antaranggota di seluruh Indonesia. Untuk wilayah Joglosemar, tercatat sebanyak 60 anggota yang terdaftar.

”Bukan hanya gathering saja yang dilakukan komunitas ini. Kami juga menjadikan komunitas ini sebagai tempat sharing modifikasi mobil dan pengetahuan tentang memperbaiki kerusakan mobil,” ujarnya.

Ia mengaku, jika mobil tua memang terkendala dengan masalah kerusakan mesin. Selain itu, keberadaan spare part yang minim, sehingga harus rukun serta butuh pertolongan orang lain.
”Kami selalu membantu kesulitan spare part jika ada pemilik mobil Forsa yang mengalami kerusakan. Di sinilah peran para anggota lain untuk membantu mereka. Selain itu juga ajang tukar pikiran modifikasi interior dan eksterior mobil,” katanya.

Sebagai klub mobil, komunitas ini juga tak lepas dari aksi sosial dengan melakukan penggalangan dana untuk membantu masyarakat yang terkena musibah.

”Saat Gunung Kelud meletus, semua anggota iuran untuk membantu para korban bencana. Kami juga rutin melakukan aksi sumbang darah saat pertemuan dan membagikan takjil saat Ramadan tiba,” terangnya.

Novian mengatakan, komunitas otomotif ini terbuka untuk umum. Anggota tidak hanya pemilik mobil Suzuki Forsa, masyarakat yang tidak memiliki mobil dan ingin bergabung juga dipersilakan. ”Kami mengedepankan kekeluargaan dan kebersamaan antarsemua anggota, hal itu yang terus kami pegang,” ujarnya.

Salah satu anggota SFCI asal Salatiga, Hari Indrianto, mengaku setelah bergabung sebagai anggota komunitas SFCI memiliki banyak manfaat, di antaranya mendapatkan banyak ilmu mengenai perawatan mobil. ”Serasa punya keluarga baru juga, di samping mendapatkan jalan keluar ketika mobil ini rusak,” akunya.

Pengalaman unik dan berkesan pernah dirasakan Heri. Ia mengenang, pernah menolong anggota Komunitas Forsa dari Jakarta yang mengalami kerusakan mesin di daerah Salatiga.

”Setelah dihubungi, kami pun membantunya. Tapi karena rusaknya parah, mobilnya harus ditinggal untuk diperbaiki. Saya pun meminjamkan mobil saya kepada dia. Dalam pikiran saya, sesama teman harus saling membantu, apalagi kalau hal tersebut menimpa saya. Inilah salah satu hal yang membuat saya selalu aktif dalam komunitas ini,” katanya. (*/aro/ce1)