KERJA SAMA: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jateng, Prasetyo Wibowo (pakai peci hitam) menandatangani perjanjian kerja sama FGD Master Plan di gedung Rimba Graha Perhutani Jateng. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KERJA SAMA: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jateng, Prasetyo Wibowo (pakai peci hitam) menandatangani perjanjian kerja sama FGD Master Plan di gedung Rimba Graha Perhutani Jateng. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KERJA SAMA: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jateng, Prasetyo Wibowo (pakai peci hitam) menandatangani perjanjian kerja sama FGD Master Plan di gedung Rimba Graha Perhutani Jateng. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pembangunan wana wisata Penggaron atau Jateng Park akan mulai awal tahun 2016. Sesuai rencana, pembangunan tidak akan langsung seluruhnya dikerjakan, akan tetapi dilakukan secara bertahap. Dari luas lahan 500 hektare yang disiapkan oleh Perhutani Jateng, akan diselesaikan 50 hektare hingga 200 hektare terlebih dahulu.

”Targetnya pertengahan tahun 2016, harus ada satu hingga dua wahana yang diselesaikan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jateng, Prasetyo Wibowo usai menandatangani perjanjian kerjasama FGD Master Plan pengembangan wana wisata penggaron Provinsi Jateng di gedung Rimba Graha Perhutani Jateng. Rabu (15/4).

Prasetyo menambahkan, untuk prosesnya nanti, pihaknya akan mengajak sejumlah investor ikut mendukung pembangunan wana wisata di Desa Penggaron Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. ”Total anggaran dalam proyek ini mencapai Rp 2 triliun,” imbuhnya.

Kepala pusat perencanaan dan pengembangan kepariwisataan ITB, Budi Faisal yang ditunjuk sebagai konsultan atas proyek mengungkapkan, rencananya akan dibuka pintu masuk langsung dari tol berupa interchange baru pada rest area di KM 22 (selatan area perencanaan). Sementara gerbang utama letaknya berdekatan langsung dengan interchange yang berfungsi juga sebagai rest area di KM 20. ”Selain itu, ada jalan yang berpotensi menjadi jalan masuk. Yakni jalan dari tol Tembalang-Ungaran, gerbang eksisting dan dari jalan Desa Susukan,” katanya.

Budi menegaskan, gerbang eksisting perlu direnovasi dan ditata agar mampu mewakili image Jateng Park yang lebih modern. Selain itu, juga perlu perkuatan struktur karena lokasi yang rawan longsor. ”Di area sisi barat dan selatan lahan berada di tingkat kemiringan curam sekitar 30 persen. Solusinya, area itu akan dimaksimalkan untuk konservasi lahan dan tidak dilakukan pembangunan,” tambahnya.

Ia menjelaskan konsep pengembangan memiliki jalur sirkulasi utama yang mengelilingi dan dapat mengakses semua kawasan. Area aktivitas dialokasikan di sisi barat karena berbatasan dengan tol. Sedangkan area hijau terhubung di sisi timur karena lebih efektif untuk konservasi. ”Jadi, rencana wisata ini tetap mendekatkan dengan alam dan mengadopsi beberapa kekayaan Jateng. Seperti pintu masuk theme park berupa ikon candi-candi. Kami juga dapat masukan untuk menambah 36 tanaman langka,” tambahnya.

Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko menegaskan bahwa tahapan pembangunan Jateng Park ini harus jelas dan regulasinya harus clear. Sehingga mampu menarik investor. Ia juga berharap dengan adanya rencana pembangunan wana wisata Jateng Park ini mampu menyejahterakan rakyat. ”Kami berharap dengan adanya ini bisa ditindaklanjuti dengan langkah nyata demi kesejahteraan rakyat. Tentunya dengan didukung infrastruktur yang baik pula,” katanya. (fai/fth/ce1)