SEMARANG – Setidaknya kurang lebih 20 persen dari total 263 ruas jalan Provinsi Jateng merupakan jalan yang rawan longsor. Untuk itulah, ruas jalan itu harus mendapat perhatian terutama menyangkut jembatan yang telah berumur di atas 40 tahun.

Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jateng, Bambang NK mengatakan, ada dua kategori jalan dikatakan rawan longsor. Yaitu longsor di badan jalan dan longsor di bahu atau sekitar jalan. Penyebabnya pergerakan tanah yang labil sehingga menjadikan jalan longsor. Selain itu, faktor cuaca juga memengaruhi karena seringnya terjadi pada saat musim hujan. ”Ini yang perlu mendapat perhatian baik dari pemerintah provinsi dan juga pemerintah daerah,” katanya ditemui di sela-sela acara rapat bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Kantor Gubernur Jateng, kemarin.

Ia menambahkan, selain Ciregol, terdapat juga beberapa jalur yang merupakan rawan longsor. Misalnya jembatan Kedung Agung di Purworejo, Jembatan Soekarno di Banyumas, dan juga jembatan Cindaga Rawalo di Kebumen. ”Maka tidak heran jika kemudian Pak Gubernur (Ganjar Pranowo) menyebut Jawa Tengah sebagai warungnya bencana alam,” imbuhnya.

Sebagai upaya antisipasi, pemprov telah melakukan perencanaan desain ulang di samping juga pengalokasian dana untuk memperbaikinya. Menurutnya, hal itu telah dikomunikasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan juga BPBD Badan Penanggulangan Bencana Daerah. ”Data-data kondisi jalan akan terus kita update,” tambahnya.

Disinggung terkait penanganan jalur Ciregol, Bambang menyatakan bahwa Bina Marga Jateng telah melakukan pelebaran sisi kanan dari jalur Pejagan sepanjang 280 meter. Selain itu, tebing bagian barat telah dikepras untuk pembuatan jalan baru. Sehingga pada mudik Lebaran nanti bisa dilalui pemudik. ”Secara operasional, kondisi jalan dapat difungsikan untuk dilalui berbagai jenis kendaraan, namun secara kualitas belum optimal,” pungkasnya. (fai/fth/ce1)