RUTIN BERLATIH : Harris Riadi rutin melakukan latihan membatik di atas kertas semen, mulai dari panjang 5 meter hingga terakhir bisa mencapai 30 meter. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUTIN BERLATIH : Harris Riadi rutin melakukan latihan membatik di atas kertas semen, mulai dari panjang 5 meter hingga terakhir bisa mencapai 30 meter. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUTIN BERLATIH : Harris Riadi rutin melakukan latihan membatik di atas kertas semen, mulai dari panjang 5 meter hingga terakhir bisa mencapai 30 meter. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tidak salah, Kota Pekalongan mendapatkan penghargaan sebagai Kota Kreatif Dunia. Terbukti, salah satu warganya mendapatkan penghargaan dari Unesco secara individual dalam karya seni batiknya di atas limbah kertas semen. Untuk membuktikan konsistensinya, Harris akan ambil bagian dalam event performing art, membatik di atas kertas semen dengan ukuran lebar 60 sentimeter dan panjang 50 meter. Seperti apa?

BEGITU datang ke rumah sekaligus galeri batiknya Green Batik Harris, di Jalan Patriot Kota Pekalongan, kali pertama akan disambut tumpukan kertas bekas bungkus semen yang sedang dibatik. Juga masih banyak beberapa produknya yang menarik seperti tas, bungkus kado dan kerajinan lain dari limbah sisa produksi seperti kantong semen atau kertas timah (aluminium foil).

Pria yang sempat menjadi dosen Politeknik Pusmanu Pekalongan, langsung membuka percakapan dengan rencana besarnya yaitu event performing art, membatik di atas kertas semen dengan ukuran lebar 60 sentimeter dan panjang 50 meter.

“Rencana membatik sepanjang 50 meter, akan digelar pada Mei mendatang. Namun tanggalnya belum dipastikan. Rencananya akan digandeng perusahaan semen nasional. Acara digelar dua kali, pertama di Jakarta dan kedua di Malaysia dengan perusahaan semen asal negeri tersebut,” ungkapnya.

Usut punya usut, adanya acara tersebut dikarenakan pria kelahiran 30 September 1963, kini menyandang status sebagai penerima penghargaan dari World Craft Council (WCC) Award of Excelence for Handicrafts pada September tahun 2014, dari lembaga yang dibawahi oleh Unesco yang membidangi craft. Karyanya Cement Paper Batik Gift Craft diakui dunia sebagai karya seni dan juga produk kerajinan terbaik.

Sebelum mendapatkan penghargaan tersebut, Harris dapat penghargaan INACRAFT Award pada April 2013. Selanjutnya, mendapatkan Dekranas Award Sepetember 2013. Sehingga oleh Menteri Perdagangan diajukan dalam event dua tahunan World Craft Council (WCC) Award of Excelence for Handicrafts. Kebetulan dirinya satu-satunya wakil dari Jawa Tengah dalam ajang tersebut.

“Saat saya dapat penghargaan, saya dituntut terus membuat karya. Salah satu langkahnya dengan menggelar performing art, agar saya terus dianggap konsisten,” jelas pria yang pernah menempuh pendidikan seni rupa di ASRI angkatan 1980 ini.

Kini dirinya menyiapkan fisik dan mentalnya sebelum gelaran acara dimulai. Sudah sejak sebulan lalu, dirinya latihan setiap tiga hari sekali. Latihan membatik mulai dari 5 meter, sampai terakhir 30 meter. “Dan target sebelum hari H, saya sudah bisa presentasi membatik sepanjang 50 meter di hadapan sponsor dan kementrian,” harapnya.

Dalam pelaksanaannya kelak, Pembina Seni Kriya untuk perlombaan FLS2N Tingkat Jateng ini akan tetap menggunakan teknik batik yang sudah dikembangkannya selama ini. Yaitu batik dengan warna alam dan bahan baku kertas semen bekas.

Namun kertas semen bekas tersebut diolah terlebih dahulu. Kemudian baru dilukis batik dengan mengguanakan malam. Setelah selesai, langsung diwarnai secara bertahap sampai 50 meter. Setelah kering, kertas semen akan diplorot atau dihilangkan malamnya dengan dicuci melalui teknik khusus. Kemudian dijemur dan sudah jadi.

“Ini sekaligus untuk memecahkan rekor dunia. Semua proses akan saya lakukan sendiri. Untuk tema gambar, akan saya torehkan pop art, batik modern tentang alam. Seperti daun, bumi, dan alam sekitar. Ini sejalan dengan temanya go green dan selamatkan bumi,” jelas suami Siti Masihtoh, 47 itu.

Lewat karyawanya, Harris berharap, kesenian bisa menjadi mediator untuk keselamatan lingkungan. Karena dengan seni, bisa menyelamatkan sampah, bahkan bisa menyelamatkan dunia. “Saya mulai menekuni batik ramah lingkungan baru 10 tahun belakangan ini,” tuturnya.

Menurutnya banyak orang yang terkait limbah, kertas semen kerap dianggap tak lagi bernilai dan tempatnya adalah di tumpukan sampah. Namun di matanya, limbah justru masih menjadi barang berharga. “Bahkan, dulu saya sampai memulung sendiri. Terutama di daerah dekat bangunan yang belum jadi. Namun berikutnya, saya beli dari pemulung dengan harga pantas, sekaligus berbagi rejeki,” katanya.

Ia mengumpulkan limbah kertas kemudian menyulapnya menjadi karya batik. Hatinya tergerak berbuat sesuatu lewat bidang seni, sehingga bisa mengubahnya menjadi barang yang lebih berharga.

Pada awalnya, bertahun-tahun lalu, bukan perkara mudah buat Harris saat memulai kreasinya ini. Kadang ia harus menerima kenyataan hasil karyanya itu dipandang sebelah mata banyak orang. “Sering saya disindir, hanya orang tak punya uang yang membuat karya seperti itu. Masa sampah dibatik, apa tidak kuat beli kain?” ucapnya mengenang masa awal usahanya.

Saat itu juga, industri batik sedang mengalami penurunan drastis. Sebelumnya, Harris juga membuat batik seperti pada umumnya, namun kondisi ekonomi membuatnya semakin sulit. Setahun pertama, batiknya tak kunjung laku. Namun karena kejujuran, kerja keras dan inovasi, Harris mampu keluar dari kegagalan.

Pelan-pelan batiknya mulai dikenal. Ia pun sering diundang untuk memberikan workshop dan mendapatkan beberapa penghargaan. Pembatik asal Pekalongan ini menyebut jika usaha batik yang dibangunnya dengan memakai sampah adalah sebagai wujud nyata dirinya untuk lingkungan.

Dengan sentuhan motif batik kontemporer ia mempercantik banyak sampah kertas dan menjadikannya barang-barang bernilai tinggi, seperti baju atau tas tangan perempuan. Uniknya, begitu perhatiannya Harris terhadap alam, sampai-sampai membuat pewarnanya pun yang alami. Saat ini saja, ia mengaku sedang berusaha membuat pewarna dari bunga.

Soal motif batik, Harris nyaman dengan motif kontemporer karena terpengaruh latar belakangnya. Salah satunya, ia terbiasa membuat motif batik kartun. Bahkan mengikuti perkembangan informasi. Dirinya pernah membuat motif batik sepakbola dari Piala Dunia, Piala Eropa sampai Liga Champion.

Bahkan karyanya sudah dibeli oleh banyak kalangan selebritis tanah air dan duta besar negara lain. Dari batik limbah kertas dan pewarna alami, dirinya juga sudah melanglang buana ke banyak negara, mulai Belanda, Jepang, Rusia dan Negara Asia lainnya. (*/han/ida)