Lukisan Rp 600 Juta Dipamerkan

363
PAMERAN LUKISAN : Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, saat melihat pameran lukisan, di gedung wanita, Selasa (14/4) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PAMERAN LUKISAN : Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, saat melihat pameran lukisan, di gedung wanita, Selasa (14/4) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PAMERAN LUKISAN : Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, saat melihat pameran lukisan, di gedung wanita, Selasa (14/4) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Lebih dari 200 lukisan, dari puluhan pelukis nasional ikut memeriahkan pameran yang diselenggaran oleh Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Batang, di Gedung Wanita, Selasa (14/4) kemarin.

Ajang pameran yang digelar setahun sekali tersebut, kebanyakan mengangkat tema korupsi, rusaknya lingkungan hidup, hingga tema sosial dan kemiskinan. Adapun tema sosial dan rusaknya lingkungan hidup khususnya di laut, paling mendominasi pada lukisan karya pelukis Kabupaten Batang.

Namun demikian, ada satu lukisan bertema tentang sosial dan bahaya korupsi karya Lulus Santosa, pelukis dari Gunung Kidul Jogjakarta yang dibandrol dengan harga Rp 600 juta. Lukisan dengan ukuran lebar 260 sentimeter dan lebar 180 sentimeter itu terbuat dari bahan cat. Paling menarik dan menjadi perhatian setiap pengunjung yang datang.

Muhammad Rahman Athian, 47, kurator dari Bandung yang lahir di Batang mengungkapkan bahwa seniman Batang memiliki potensi yang besar di bidang seni rupa. Menurutnya dengan di gelarnya pameran seni rupa, Batang benar-benar akan menjadi pusat seni rupa pantura di Indonesia.

“Saya yakin dengan pameran yang setiap tahun digelar, kami akan memiliki database yang menjadi rujukan para peneliti pelaku seni. Sehingga Batang akan menjadi perhatian seni rupa di dunia. Tapi persiapan yang dilakukan, harus lebih baik dari pameran kali ini,” ungkap Athian.

Ketua DKD Kabupaten Batang, Tri Bakdo, mengatakan bahwa pameran seni rupa di Gedung Wanita Batang selain menampilkan lukisan dari seniman Batang sendiri, juga menampilkan karya dari pelukis luar kota, seperti Jogjakarta, Semarang, Jakarta dan Bandung.
“Lukisan seharga Rp 600 juta dari seniman Jogjakarta ini, kita jaga selama 24 jam. Karena sebelumnya sudah ada kurator lukisan dari Jakarta yang menawar dengan harga Rp 300 juta,” katanya.

Dia menandaskan, bahwa pameran seni rupa dilakukan sebagai ajang untuk menunjukan eksistensi bagi para seniman yang ada di Kabupaten Batang dan luar kota. Menurutnya akan terjalin keakraban silaturahmi, antara seniman dari berbagai daerah untuk saling memberi dan menerima, berbagi pengalaman sekaligus menghembuskan iklim apresiasi dan edukatif bagi masyarakat sebagai apresiasi.

“Seniman Kabupaten Batang memiliki potensi seni rupa yang sangat luar biasa. Namun belum terekspose secara maksimal. Agar pelaku seni rupa ada gaungnya, maka pemerintah harus memberikan fasilitas untuk mengekpos seni rupa yang ada di Kabupaten Batang,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo, menuturkan pelaku seni rupa Kabupaten Batang sebenarnya banyak yang sudah unjuk gigi di level nasional.

Menurutnya tidaklah elok dan etis jika seniman Batang hanya untuk jembatan bagi pelaku seni rupa dari daerah lain. Tapi tidak ikut berperan lebih dalam memamerkan lukisan atau mempublikasikan karyanya sendiri.

“Kami harapkan kegiatan pameran seni rupa ini, menjadi agenda tahunan untuk membuka ruang publik pelaku seni, dalam mengekpresikan seninya” tuturnya. (thd/ric)