Kenaikan Tarif Angkutan Umum Tak Berdasar

178

SEMARANG – Rencana para pengusaha angkutan umum (Organda) yang akan menaikkan tarif sebesar 5-7 persen menuai penolakan dari Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K). Kebijakan tersebut dianggap tidak memiliki dasar yang jelas. Pemberlakuan tarif batas atas dinilai masih bisa menutupi dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tanpa harus menaikkan tarif.

”Pemerintah sendiri sejauh ini tak ada sinyal akan menaikan tarif angkutan, meskipun ada kenaikan harga BBM per 28 Maret lalu. Karena itu, kami akan menolak kalau Organda menaikan tarif angkutan umum. Jika menaikkan tarif, tentunya harus ada kebijakan dari pemerintah,” terang Ketua LP2K Ngargono, kemarin.

Dia meminta, Organda Kota Semarang mempertimbangkan rencana menaikkan tarif secara bijak. Saat harga BBM melambung tinggi beberapa waktu lalu, tarif angkutan umum dinaikkan sampai sekitar 20 persen. Namun, ketika harga BBM turun lagi tarif angkutan umum hanya turun 5%. ”Apalagi, masih ada tarif batas atas. Tarif batas atas tersebut masih bisa menutupi akibat dari kenaikan harga bahan bakar,” tegasnya.

Organda juga diminta mengetahui, kalau tarif angkutan umum terlalu tinggi maka dengan sendirinya akan ditinggal masyarakat, pengusaha angkutan pasti rugi sendiri. Apalagi, tarif angkutan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang dioperasikan pemerintah tidak ikut naik.

Tarif angkutan umum sebelumnya sudah naik 10-18 persen, saat harga BBM naik pada akhir tahun 2014 lalu. Yaitu untuk daihatsu (12 penumpang), bus ¾, dan taksi. Wasi Darono, Ketua Organda Kota Semarang, mengatakan, untuk tarif daihatsu batas bawah Rp 3.000 dan batas atas Rp 6.000. Untuk bus ¾ batas bawah Rp 3.000 dan tarif tertinggi Rp 6.500. ”Hal ini untuk tarif dasar, yaitu daihatsu 0-8 kilometer dan bus ¾ 0-12 kilometer),” katanya.

Tambahan tarif angkutan daihatsu per kilometernya Rp 160 dan bus ¾ Rp 180. Sedangkan tarif angkutan taksi, tarif buka pintu batas bawah Rp 5.500 dan batas atas Rp 7.000. Sedangkan pulsa tarif batas bawah Rp 350/km dan tertinggi Rp 475/km.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang, Agus Harmunanto, sudah menyatakan bahwa tarif angkutan umum mungkin tidak akan naik. Hal itu jika hanya harga BBM saja yang naik, sementara harga suku cadang, oli, gaji tenaga supir, dan lainnya tidak ikut naik. (zal/ce1)