MULAI DIGEBER: Para penari dari Sanggar Greget saat tampil menghibur perwakilan 35 kota dan kabupatenh se-Jateng dalam pembukaan Popda SD se-Jateng, Senin (13/4) malam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
MULAI DIGEBER: Para penari dari Sanggar Greget saat tampil menghibur perwakilan 35 kota dan kabupatenh se-Jateng dalam pembukaan Popda SD se-Jateng, Senin (13/4) malam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
MULAI DIGEBER: Para penari dari Sanggar Greget saat tampil menghibur perwakilan 35 kota dan kabupatenh se-Jateng dalam pembukaan Popda SD se-Jateng, Senin (13/4) malam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) tingkat sekolah dasar (SD) hari ini mulai digeber. Selain untuk menguji hasil latihan atlet, multievent yang digeber selama empat hari (13-16/4) dan diikuti 35 kota dan kabupaten se-Jateng di Semarang ini, juga untuk menjaring embrio skuad Pekan Olahraga Nasional (Popnas) masa mendatang.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Jateng Budi Santoso menuturkan, Popda bisa jadi ajang evaluasi sekaligus pembibitan atlet Jateng menuju prestasi. “Kami akan menjaring anak-anak yang potensial untuk dijadikan embrio. Kalau sudah matang, pasti akan diikutkan ke Popnas,” ucapnya di sela-sela Welcome Party Popda Tingkat SD di Aula Dinpora Jateng, Senin (13/4) malam.

Dalam kesempatan itu, pihaknya menyinggung mengenai prestasi Jateng di ranah Popnas dan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang hanya bisa langganan di peringkat 4. Justru atlet-atlet yang berkebutuhan khusus mampu menunjukkan taji dengan juara umum berturut-turut di ajang paralimpic. “Kalau atlet difabel saja bisa menjadi juara umum, pasti yang normal bisa lebih dari itu. Karenanya, kami akan lebih fokus menyiapkan atlet-atlet andal yang memang sudah dipersiapkan untuk berlomba di ajang nasional, bahkan internasional,” imbuh Budi.

Selain pembibitan lewat Popda, dia juga mengerahkan sistem berkelanjutan. Seperti sport sience yang punya andil besar dalam pemolesan atlet. Pihaknya mengakui jika selama ini sarana prasarana keolahraan Jateng cukup memprihatinkan. Hanya ada tiga daerah saja yang sudah membawa predikat standar. Yaitu Kota Semarang, Surakarta, dan Banyumas. “Yang lain tergolong masih kurang. Karena itu, kami akan segera membenahinya. Selain itu, Sport Centre di Jatidiri juga terus dikebut,” tegasnya.

Dalam acara welcome party itu, digelar juga penyerahan piala bergilir secara simbolis dari Juara Umum tahun lalu, yaitu defile Kota Semarang kepada panitia. Sebelumnya, dipembukaan acara, tampil lima penari besutan Sanggar Greget yang membawakan Tari Angsa. (amh/smu)