Atur Negara seperti Aransemen Musik

120
ATRAKTIF: Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun saat tampil di acara dialog budaya yang digelar di Balai Kota Semarang tadi malam. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATRAKTIF: Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun saat tampil di acara dialog budaya yang digelar di Balai Kota Semarang tadi malam. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATRAKTIF: Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun saat tampil di acara dialog budaya yang digelar di Balai Kota Semarang tadi malam. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BALAI KOTA – Dialog budaya bertajuk ”Tri Dharma: Mulat Sarira Hangsara Wani, Rumongsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi” tadi malam berlangsung meriah. Puluhan budayawan Kota Atlas hadir dalam acara yang dihelat Forum Wartawan Balai Kota (Forwakot) Semarang ini. Selain itu, kegiatan ini juga dimeriahkan penampilan kelompok musik Kiai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Hadir juga putra Cak Nun yang juga pemusik, Noe Letto dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Dengan gaya santainya, Cak Nun mengatakan, dunia harus dibangun seperti kita membangun aransemen musik Kiai Kanjeng. ”Saat musik Kiai Kanjeng tampil di luar negeri, salah seorang menteri mengatakan kita harus meniru aransemen musik Kiai Kanjeng yang tidak membeda-bedakan satu sama lain. Seperti negara tidak membeda-bedakan, tidak saling menjajah. Harus saling memuliakan,” katanya.

Acara yang disaksikan ratusan warga itu juga sebagai kado ulang tahun Kota Semarang ke-468. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam sambutannya mengaku awalnya sanksi dengan Forwakot yang ingin mengadakan acara besar seperti itu. Namun setelah terselenggara, dia mengungkapkan kekagumannya kepada Forwakot yang dengan kerja keras bisa mengundang Cak Nun tanpa menggunakan sponsor.

Dia juga membahas sedikit mengenai konflik antara seniman dan Pemkot Semarang yang pernah mencuat terkait pendirian Trans Studio di lahan Wonderia dan Taman Budaya Raden Saleh. Baginya, permasalahan akan lebih bisa cepat selesai jika diselesaikan dengan cara berdialog. Selain wali kota, hadir juga Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi, Romo Aloysius Budi, Prof Nurdin HK, Djawahir Muhammad, Dr Widya Wijayanti, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip Agus Maladi Irianto, Mas Ton dari Teater Lingkar, dan ST Sukirno. (mha/aro/ce1)