TAMBAKAJI – Tiga kasus di bidang kesehatan, yakni HIV-AIDS, demam berdarah dengue (DBD), dan angka kematian ibu hamil (bumil) menjadi perhatian khusus Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Sebab, angka kejadian ketiga kasus tersebut dinilai cukup tinggi dan perlu penanganan khusus.

Sebagai langkah pencegahan, yang pertama untuk kasus DBD, wali kota mengajak warga menggiatkan kembali pemberantasan saarang nyamuk (PSN) setiap hari Jumat. Partisipasi warga masyarakat sangat menentukan dalam menekan kasus DBD di Kota Semarang.
”Saya berharap masyarakat berpartisipasi aktif dalam memantau dan mengecek jentik nyamuk di sejumlah lokasi di lingkungan masing-masing. Dengan menggiatkan PSN, saya yakin kasus DBD dapat ditekan,” terang wali kota saat menggelar dialog usai jalan sehat bersama warga Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Selasa (14/4).

Sedangkan terkait angka kematian ibu hamil yang cukup tinggi, Hendi –sapaan akrab wali kota— mengajak perhatian dan partisipasi dari seluruh warga guna memberikan pendampingan bagi para ibu hamil di lingkungan sekitarnya. Tercatat hingga saat ini, angka kematian ibu saat melahirkan mencapai 30 persen lebih. Untuk itu, wali kota meminta kepada ibu-ibu Tim Penggerak PKK, tokoh masyarakat dari tingkat RT, RW, kelurahan, ataupun kecamatan untuk melakukan pendampingan tersebut. ”Jangan biarkan ibu hamil sendiri, lakukan pendampingan, berikan informasi ataupun dukungan kepada para ibu,” pesan wali kota.

Kota Semarang, lanjutnya, memiliki jumlah rumah sakit yang paling banyak se-Jawa Tengah. Sehingga seharusnya pelayanan bagi ibu dapat lebih dirasakan oleh seluruh warga termasuk ibu hamil. ”Untuk itu, selayaknya angka kematian ibu melahirkan ini dapat ditekan,” ujarnya.

Sementara dalam dialog, Dasrul, warga setempat menanyakan bantuan kesehatan bagi warga, utamanya dari kalangan miskin yang tidak ter-cover Jamkesmas. Menanggapi hal tersebut, wali kota menyampaikan, sudah menjadi kewajiban bagi Pemkot Semarang untuk memberikan bantuan dan jaminan kesehatan bagi warganya yang tidak mampu. Bantuan dan layanan tersebut diwujudkan melalui program Jamkesmaskot (jaminan kesehatan masyarakat kota) Semarang. Wali kota meminta SKPD terkait melakukan data dan validasi kepada warga miskin yang belum ter-cover.

Dalam kesempatan tersebut, guna menekan angka kasus HIV-AIDS di Kota Semarang, wali kota juga meresmikan dibukanya sosialisasi bahaya HIV-AIDS dan narkoba di Kecamatan Semarang Utara. (zal/adv/aro/ce1)