Usai Tewas Dicekik, Ditiduri 3 Jam

117
TEGA: Tersangka saat memeragakan aksi kejamnya kepada istrinya sendiri, kemarin. (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang)
TEGA: Tersangka saat memeragakan aksi kejamnya kepada istrinya sendiri, kemarin. (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang)
TEGA: Tersangka saat memeragakan aksi kejamnya kepada istrinya sendiri, kemarin. (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang)

TEMBALANG – Puluhan penghuni Balai Rehabilitasi Sosial (Resos) Mardi Waluyo I, UPTD Dinas Sosial milik Pemerintah Provinsi Jateng di Jalan Mulawarman, Kelurahan Kramas, Tembalang, Kota Semarang, berbondong-bondong ke rumah Gatot Subroto nomor 5 di kompleks tersebut, Senin (13/4) siang.

Mereka penasaran hendak menyaksikan bagaimana proses terjadinya pembunuhan yang dilakukan Turino, 48, terhadap istri sirinya, Sartini, 39, pada Jumat (20/3) 2015 lalu, sekitar pukul 23.00.

Tersangka Turino sendiri, sekitar pukul 12.00, dikeler oleh tim penyidik Resmob dan Inafis Polrestabes Semarang di lokasi kejadian. Penyidik Polrestabes Semarang dengan disaksikan petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, menggelar rekonstruksi atau reka ulang pembunuhan tersebut.

Sedikitnya Turino diminta memperagakan sebanyak 22 adegan. Mulai dari awal mula terjadinya insiden pembunuhan tersebut. Tersangka mengelak dituduh membunuh istri dengan cara memberi cairan beracun atau air keras. Dia mengaku membunuh dengan cara mencekik istri sirinya tersebut akibat cemburu. ”Masya Allah kok bisa tega banget,” ujar salah seorang ibu penghuni Resos yang menyaksikan rekonstruksi tersebut.

Malam itu, Turino bermaksud mengajak korban berhubungan suami istri, namun Sartini menolak. Sartini dianggap bersikap dingin dan tidak menggubrisnya dan justru SMS-an. Tersangka menuding istrinya saat itu SMS-an dengan seorang pria yang juga tinggal di Resos, bernama Ipung.

Atas hal itulah, Turino terbakar api cemburu. Sekitar pukul 23.00, Turino berusaha menyentuh tubuh istrinya, namun Sartini tetap saja mengelak. Puncaknya, Turino mencekik leher Sartini menggunakan kedua tangannya, kurang lebih 30 menit sebelum akhirnya meninggal.

Turino mengaku masih sayang dan cinta terhadap Sartini. Sehingga meski telah mengetahui Sartini meninggal, ia tetap memilih tidur bersama jenazah Sartini kurang lebih selama tiga jam, mulai pukul 00.00 sampai pukul 03.00.

Sebelum pergi, Turino sempat menulis di sebuah kertas. Tulisan itu berisi: ”Saya melakukan ini karena Sartini sudah tidak mau dipegang sama aku. Karena Sartini sudah ada pendamping yang lain di balai ini. Karena saya tahu dengan mata kepalaku,” tulis Turino di sebuah lembaran kertas yang ditinggalkan di lokasi kejadian.

Jenazah Sartini ditutupi selimut warna merah muda layaknya tidak terjadi apa-apa. Tersangka kemudian meninggalkan istri siri yang dinikahi sejak 1,5 tahun lalu, sekitar pukul 03.00. Setelah itu, ia berjalan kaki ke daerah Sukun Banyumanik, hingga kemudian kabur menaiki bus jurusan Kebumen.

Namun ternyata di tanah kelahirannya di daerah Gombong, tersangka tidak betah. Turino memiliki catatan kurang baik di mata sejumlah masyarakat. Di antaranya pernah menggelapkan sepeda, utang uang belum dikembalikan. Sehingga hal itu membuatnya tidak nyaman tinggal di sana. Ia kemudian bermaksud berangkat ke Bandung, ke rumah kakaknya. Saat menunggu bus di sekitar Pasar Kroya perbatasan Kebumen-Cilacap, Turino dibekuk oleh tim Unit Resmob Polrestabes Semarang yang dipimpin Aiptu Janadi, pada Minggu (22/3), sekitar pukul 17.00.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, rekonstruksi ini dilakukan untuk memastikan dan memperkuat bukti-bukti dalam kasus pembunuhan yang dilakukan tersangka. ”Tersangka memperagakan sebanyak 22 adegan,” kata Djihartono.

Turino dijerat pasal berlapis, yakni pasal 365 KUHP dan pasal 338 KUHP, karena membunuh dan membawa kabur barang milik korban. Sejumlah barang bukti yang diamankan berupa buku catatan, handphone, uang, dan pakaian korban.

Sementara itu, pengasuh Balai Rehabilitasi Sosial (Resos) Mardi Waluyo I, UPTD Dinas Sosial Pemerintah Provinsi Jateng, Sunarto menilai bahwa Turino bersama Sartini selama masuk Resos sejak tanggal 13 Februari 2015, sama-sama memiliki kepribadian baik. ”Turino kesehariannya berperilaku baik. Sering meminta izin untuk mencari pekerjaan sambilan. Misalnya dia meminta diberikan samben untuk memelihara kambing. Kalau waktu senggang, dia mencari kayu bakar,” kata Sunarto. (amu/zal/ce1)