BUTUH PERHATIAN : Salah satu orang gila yang dikirim dari kota lain di jalanan Salatiga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUTUH PERHATIAN : Salah satu orang gila yang dikirim dari kota lain di jalanan Salatiga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUTUH PERHATIAN : Salah satu orang gila yang dikirim dari kota lain di jalanan Salatiga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Disinyalir ada aksi saling membuang orang gila (Orgil) dari satu daerah ke daerah lain. Pasalnya, di beberapa daerah seperti Jalan Pondok, Cebongan Argomulyo; Jalan Kesambi, Kalicacing, Sidorejo dan Jalan Pemotongan, Sidorejo selalu muncul orang gila baru. Padahal orang gila sebelumnya sudah dibawa ke tempat penampungan di Semarang.

Dari keterangan warga di Jalan Pondok, ada orang gila baru yang suka mengobrak-obrik barang di luar rumah. Diduga buangan dari daerah-daerah yang mengapit Salatiga.

Safaruddin, 19, warga Jalan Pondok, Cebongan, Argomulyo mengatakan orang gila baru tersebut adalah seorang perempuan yang diduga stress. Belum tahu asalnya dari mana. Yang membuat warga resah, orang gila tersebut suka mengobrak-abrik barang milik warga di luar rumah. “Tiba-tiba mondar-mandir di wilayah sini. Kami berharap ada tindakan dari dinas terkait. Agar tidak meresahkan warga,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Nurrohman, penjual soto di pinggir Jalan Jendral Sudirman. Menurutnya, kehadiran orang gila baru di Jalan Jenderal Sudirman mengganggu aktivitas jualan pedagang kaki lima (PKL). Karena hampir setiap pagi, orang gila tersebut meminta makanan dan uang kepada pedagang.

“Saya sebenarnya kasihan, karena orang gila tersebut adalah lelaki tua. Tapi kami juga takut. Soalnya langganan ada yang takut. Harapan kami segera ada tindakan dari pemerintah, agar tidak meresahkan pedagang,” katanya.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Salatiga Muhammad Syafi’i mengatakan akan meminta kepada ekskutif untuk membuat rumah singgah bagi orang gila, gelandangan dan pengamen. Usulan itu sudah disetujui dan tempatnya sudah ada. Memang masalah orang gila adalah masalah bersama.

“Kita tidak boleh semena-mena terhadap mereka. Saya sudah mengantar sembilan orang gila ke Semarang. Dan insya Allah saya akan konsen dengan hal ini. Solusinya tetap harus ada koordinasi antara pemerintah satu dengan yang lain agar tidak ada lagi, buang membuang orang gila,” pungkasnya. (abd/ida)