TUNGGU GILIRAN : Sejumlah warga menunggu giliran pencairan PSKS di Kecamatan Wiradesa, Senin (13/4) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
TUNGGU GILIRAN : Sejumlah warga menunggu giliran pencairan PSKS di Kecamatan Wiradesa, Senin (13/4) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
TUNGGU GILIRAN : Sejumlah warga menunggu giliran pencairan PSKS di Kecamatan Wiradesa, Senin (13/4) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

KAJEN-Penyaluran Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) yang sedianya untuk masyarakat miskin, ternyata terdapat keluarga mampu yang mendapat Kartu Perlindungan Sosial (KPS) untuk pencairan dana langsung tersebut. Hal ini karena data pemerintah pusat tidak sesuai dengan data yang dikirimkan dari daerah. Sebagaimana penyaluran PSKS di Kecamatan Wiradesa, Senin (13/4) kemarin.

Camat Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Subiyanto memastikan penyaluran PSKS tersebut salah sasaran, karena adanya perbedaan data. Yakni data yang dikirim pihak desa ke pusat dengan data yang diterima pihak desa dari pusat. “Pendataan yang dikirim dari pusat tidak sesuai daftar yang dikirimkan pihak desa,” terangnya di balai kecamatan yang menjadi lokasi penerimaan dana PSKS.

Hal itu mengakibatkan, adanya data warga yang semula miskin tetap masuk dalam daftar, meskipun sekarang perekonomiannya sudah meningkat. “Memang ada kekeliruan data warga miskin, tapi sekarang ini tidak separah tahun lalu,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, Subiyanto menggerakkan pihak desa untuk melakukan validasi data keluarga miskin yang benar-benar sesuai kriteria. Hal itu dilakukan agar warga yang belum terdaftar menjadi prioritas penerima pada penerimaan periode berikutnya.

“Kami melakukan validasi ulang. Kemudian data tersebut disampaikan ke pemerintah pusat. Kami berharap, hasilnya yang turun nanti sama seperti data yang kami sampaikan,” ujarnya.

Masing-masing pemegang KPS mendapatkan uang tunai Rp 200 ribu setiap bulannya. Pada bulan April pencairan dilakukan tiga bulan sekaligus. Yakni Januari, Februari dan Maret. “Semuanya berjalan lancar. Ketika terjadi kesalahan seperti itu, kami melakukan rembug desa, sehingga tidak terjadi ketersinggungan dari warga,” imbuhnya. (hil/ida)