Bermodal Nekat, Ajarkan Tari ke Siswa SD

160
CINTA KAMPUNG HALAMAN: Sudian dan tari kera kreasinya. (FOTO-FOTO: SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CINTA KAMPUNG HALAMAN: Sudian dan tari kera kreasinya. (FOTO-FOTO: SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

boks (2)WEB

Objek wisata alam Goa Kreo identik dengan kera-kera jinak. Karena itulah, seorang warga setempat, Sudian, menciptakan tari kera. Tarian itu kerap dipentaskan setiap acara tertentu. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO, Kandri

SUDIAN tercatat sebagai warga Kampung Talun Kacang RT4 RW 3, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Ia merasa terpanggil untuk mengembangkan potensi wisata yang ada di daerahnya. Tanpa memiliki keahlian di bidang seni, ia memberanikan diri untuk menciptakan kreasi tari yang dinamakan ”Wanara Parisuka”.

Wanara yang berarti kera, dan Parisuka yang berarti bersenang-senang. Sebuah tarian kera yang rutin ia ajarkan kepada anak-anak SD di daerahnya.

”Ya, sebisanya Mas, kalau dibandingkan dengan tarian di sanggar-sanggar, ya tarian saya ini jauh lebih jelek, tapi saya berusaha untuk mengembangkan sejarah dari Goa Kreo ini, saya modal niat dan nekat,” kata Sudian merendah.

Untuk mengenalkan tari kreasinya itu, Dian –panggilan akrabnya— menghubungi para kepala SD di wilayahnya. Ia meminya izin selama 2 jam untuk mengajari para siswa menari kera setiap Sabtu. ”Sekarang tari kera jadi kegiatan ekstrakurikuler,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, tarian yang diciptakan berdasarkan sejarah Goa Kreo, yang menceritakan bagaimana para kera membantu Sunan Kalijaga ketika singgah di wilayah tersebut mencari kayu jati untuk tiang Masjid Agung Demak. Tarian ini kerap kali ditampilkan ketika ada kunjungan pejabat atau wisatawan di desanya.

Sudian mengakui, hanya mengajarkan tari kera tersebut seorang diri. Ia bersemangat menciptakan tarian tersebut semata-mata untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan warga di daerahnya lewat seni dan budaya. Sebab, dengan pementasan seni tari tentunya akan mendatangkan banyak wisatawan. Dengan begitu, warganya bisa menjual makanan, minuman, dan aneka cenderamata khas Kandri.

Ke depan, ia berharap akan ada generasi penerusnya. Ia ingin mengembangkan sejarah dan seni budaya di kawasan Goa Kreo. ”Mengajari anak-anak SD dibutuhkan ketelatenan Mas. Diperlukan kesabaran untuk membuat mereka bisa menari, nembang dan juga main gamelan dari nol. Tapi Alhamdulillah usaha saya selama ini sudah diketahui Dinas Pariwisata sampai Gubernur Jateng sudah melihat tarian ini,” kata Sudian bangga.

Sudian sendiri kerap menemui beberapa kendala dalam pementasan tari kera, seperti masalah kostum dan peralatan gamelan. Ia masih menggunakan kostum sederhana. Sedangkan gamelannya menggunakan perangkat gamelan titipan dari Dinas Pariwisata yang telah berumur tua. ”Seperangkat gamelan itu sebenarnya sudah tidak layak digunakan dalam pementasan,” ujarnya.

Namun dari semua kendala yang ada, dukungan masyarakat lah yang mampu membuatnya kembali bergairah. Warga sekitar memberi kebebasan waktu kepada anak yang ia didik untuk berlatih. Mereka juga tidak pernah mengharapkan upah jika anak mereka diajak pentas.

”Dukungan masyarakat itu sudah menjadi anugerah buat saya Mas, karena langkah saya dipermudah. Kepala sekolah juga selalu memberi izin jika anak-anak ada pementasan mendadak,” katanya.

Selain menciptakan tarian, ia juga mengadakan atraksi kera yang ada di kawasan Goa Kreo. Atraksi panjat pinang yang dilakukan oleh kera-kera ia suguhkan kepada pengunjung. Semua biaya dalam pertunjukan atraksi ini ia tanggung seorang diri. Ia menggunakan uang pribadi sebesar Rp 600 ribu dari hasil kerjanya mengumpulkan barang bekas. Sayangnya, saat ini atraksi tersebut untuk sementara dihentikan karena berbagai persoalan.
Selain terkendala biaya, permasalahan dengan pengelola objek wisata Goa Kreo menjadikan pengunjung tidak lagi dapat menyaksikan atraksi panjat pinang kera.

”Pernah dikatakan sebagai pahlawan kesiangan, sempat membuat saya down. Namun saya tetap terus memikirkan bagaimana objek wisata ini menarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Karena sebagai warga asli sini (Kandri, Red), saya merasa memiliki objek wisata ini. Toh ini saya lakukan juga bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Kalau banyak pengunjung, pedagang di sini juga yang akan diuntungkan, termasuk pemerintah juga,” ujarnya.

Sudian bertekad ingin mengembangkan program di masyarakat sekitar supaya lebih maju. Tak peduli ia harus meninggalkan pekerjaan utamanya untuk beberapa waktu. ”Saya tidak peduli tidak bisa bayar listrik, tak bisa bayar air, yang penting program masyarakat sini maju. Masalah rezeki sudah ada yang ngatur. Kenyataannya, kancane mangan saya juga bisa mangan. Kancane lampunan (pakai lampu penerangan) saya juga bisa lampunan,” pungkas Sudian. (*/aro/ce1)