Solichul Huda. (DOK/RADAR SEMARANG)
Solichul Huda. (DOK/RADAR SEMARANG)
Solichul Huda. (DOK/RADAR SEMARANG)

DI Kota Semarang, pelaksanaan ujian nasional (unas) model Computer Based Test (CBT) memang hanya dilakukan di SMK Texmaco. Unas sistem baru ini memang masih banyak menuai pro dan kontra. Beberapa pihak memprediksi pelaksanaan unas CBT ini akan mengalami banyak kendala.
Pakar Teknologi Informasi (IT) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Solichul Huda, mengatakan, inovasi yang dilakukan oleh Kemendikbud ini patut diapresiasi. Namun, menurut dia, masih banyak yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan unas CBT.

”Pernah ada peserta ujian online, ketika masuk ke soal 15, tiba-tiba jaringan hang, setelah ditunggu 30 menit jaringan konek lagi, namun bukannya melanjutkan soal ke-16, yang muncul justru nilai yang diperoleh. Saya khawatir kejadian seperti ini juga terjadi di unas CBT. CBT sebelum diimplementasikan ada banyak hal yang perlu diperhatikan salah satunya ada siswa yang nilai unasnya tidak lulus (kurang) karena internet di komputer tempat dia mengerjakan soal tiba-tiba putus atau komputer hang,” kata Solichul kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (12/4).

Rencana pelaksanaan CBT sudah dipersiapkan sedemikian rupa, termasuk tenaga teknis yang mengatur jaringan LAN (Local Area Network) masing-masing kelas di mana ujian akan dilakukan, namun menurut Solichul, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih dari panitia penyelenggara.

”Memang di setiap sekolah disediakan beberapa server, di mana server tersebut diperbolehkan mengontrol maksimal 30 client. Namun server tersebut hanya untuk mengatur bandwidth masing-masing client yang terkoneksi ke server. Ketika semua komputer koneksi internet dan masing-masing sudah diberi bandwidth yang memadai, belum jaminan semua koneksi client ke server berjalan lancar,” jelasnya.

Yang perlu diingat, lanjutnya, soal biasanya diacak, yang ada kemungkinan besar file ujiannya berbeda volumenya. Ketika ada peserta ujian yang mengerjakan volume soalnya besar, minimal jalan soalnya lambat atau mungkin hang.

Jika kondisi tersebut terjadi, menurutnya, maka biasanya soal tidak dapat dikerjakan, padahal waktu pengerjaan soal tetap berjalan, maka kemungkinan nilainya akan jelek, karena dianggap soal selanjutnya tidak dikerjakan.

”Kondisi seperti ini sulit dibuktikan, karena tidak ada event logs (catatan pengerjaan proses) yang merekam komputer hang atau koneksi internet putus. Memang dalam juknis sudah ada petugas yang menangani jika ada kendala seperti itu, namun secara psikologis memengaruhi mental peserta ujian,” katanya.

Selain itu, unas CBT, menurut Solichul, rawan joki. Jika dibandingkan dengan unas PBT atau paper based test, CBT atau ujian dalam bentuk online kebocorannya semakin sedikit. Jika kasus yang pernah muncul di PBT, ada oknum yang pandai diminta mengerjakan soal kemudian diedarkan ke teman-temannya, di CBT peluangnya adalah joki. Jumlahnya paling hanya 1 hingga 2 orang.

”Dalam juknis dijelaskan semua peserta diawasi oleh petugas, namun bagaimana jika ada client yang di-set berjalan di 2 komputer client, di mana 1 komputer client di dalam ruangan, dan 1 komputer client-nya ditaruh di ruangan lain, dan ini yang mungkin dipakai oleh joki. Joki ini yang nantinya akan mengerjakan soal-soal tersebut,” terangnya.

Ia mengatakan, tenaga teknis memang harus diseleksi oleh panitia kota atau provinsi dalam arti bisa saja tenaga teknis ditugaskan di SMA yang berbeda, namun jika penempatannya seperti tersebut, berisiko kalau terjadi gangguan pada jaringan LAN mereka (tenaga teknis) tidak dapat menyelesaikan. Di sisi lain, kalau tenaga teknis SMA ditugaskan di SMA yang sama, risiko perjokiannya tinggi.

”Berikutnya biasanya soal online, soal antara peserta satu dengan yang lain berbeda, dan diacak baik nomor maupun soalnya yang berbeda. Namun bagaimana kalau setiap soal yang muncul di layar difoto, dan sebelum soal terakhir jaringan internetnya sengaja dimatikan dengan berbagai trik tertentunya, kemungkinan akan diadakan ujian ulang,” tuturnya.

Jika waktu ujian ulangnya ada waktu jeda yang cukup untuk mengerjakan soal, ada kemungkinan soal-soal yang difoto dikerjakan oleh siswa pandai dan diedarkan ke peserta lain. Menurutnya, yang perlu diperhatikan, jaringan internet itu susah diprediksi tergantung juga dengan cuaca, kualitas perangkat jaringan, jarak dan perangkat komputer itu sendiri.

”Dalam jaringan wireless (tanpa kabel), kapasitas bandwidth menunjukkan maksimal yang bisa dipakai, jadi bandwidth yang bisa dipakai bisa setengah atau hanya minimal dari bandwidth yang tersedia. Kemendikbud seharusnya mematangkan sisdur-nya terutama untuk mencegah kecurangan terutama yang merugikan peserta ujian,” katanya.

Pengamat pendidikan Jateng, Sudharto, menilai, persiapan unas berbasis komputer (CBT) masih kurang matang. Menurut dia, sebelum dilaksanakan seharusnya dilakukan berbagai persiapan seperti pelatihan sumber daya manusianya dan perlu juga dilakukan try out bagi sekolah yang ditunjuk untuk melaksanakan unas online.

”Persiapan itu bukan sekadar alatnya siap. Tetapi juga harus dipikirkan bagaimana orang-orangnya yang nantinya akan terlibat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, kondisi geografis di Indonesia yang terdiri atas banyak pulau, unas secara online dapat menjadi salah satu terobosan baru dalam rangka efisiensi anggaran. ”Tidak perlu lagi distribusi soal. Apalagi negara kita itu negara kepulauan. Dengan ujian online lebih hemat biaya cetak dan distribusi, tetapi juga harus dilakukan persiapan yang matang. Jangan seperti di Kota Semarang, awalnya siap tetapi akhirnya sekolah malah keberatan,” katanya.

Kepala SMKN 3 Semarang, Samiran, mengakui, awalnya sekolah yang dipimpinnya siap melaksanakan unas CBT. Namun setelah mendapatkan banyak sosialisasi, terutama terkait peralatan yang disiapkan cukup banyak dan biayanya memberatkan, pihaknya akhirnya mundur. ”Setelah ikut sosialisasi, dari lima SMK negeri dan lima SMK swasta yang hanya siap mengikuti unas CBT hanya SMK Texmaco di Mangkang,” ujarnya.

Samiran mengakui, peralatan yang mesti disiapkan sangat banyak, membuat beberapa SMK keberatan hingga memilih mengundurkan diri. ”Semua sekolah tidak berani karena dari pemerintah pusat juga tidak menyiapkan dan memberikan server mengingat harga server mencapai Rp 10 jutaan. Padahal kita ada empat ruang, dan hanya punya satu server,” jelasnya.

Kepala SMA Kesatrian 1 Semarang, Toto, mengatakan sekolahnya juga belum siap jika harus melaksanakan unas online. Hal tersebut dikarenakan infrastruktur yang menunjang belum sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Kemendikbud.

”Ketika kemarin ditawarkan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang, karena kondisi kami sedang meregenerasi komputer sehingga kami pada tahun ini menyatakan belum siap jika melakukan ujian menggunakan sistem CBT. Tetapi kalau tahun depan sudah siap,” ujar Toto optimistis. (ewb/aro/ce1)