IRIT BENSIN: Sepeda motor Honda Beat PGM FI sebagai motor matic paling irit BBM, seliter bensin mampu menempuh 90,3 km. (ISTIMEWA)
IRIT BENSIN: Sepeda motor Honda Beat PGM FI sebagai motor matic paling irit BBM, seliter bensin mampu menempuh 90,3 km. (ISTIMEWA)
IRIT BENSIN: Sepeda motor Honda Beat PGM FI sebagai motor matic paling irit BBM, seliter bensin mampu menempuh 90,3 km. (ISTIMEWA)

SEMARANG – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memicu lonjakan harga bahan pokok dan kebutuhan lainnya. Belum lagi diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat daya beli masyarakat menurun. Hal itu perlu disikapi masyarakat konsumen dengan berbagai langkah penghematan. Sehingga pengeluaran bisa ditekan dan diprioritaskan kepada kegiatan yang lebih penting.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, menilai, masyarakat memang harus berhemat dalam mengonsumsi energi. Makanya, ia tidak menentang langkah pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Apalagi, energi minyak lama-kelamaan akan habis, karena bukan sebagai energi yang terbarukan. “Ini juga mendidik masyarakat bahwa energi itu mahal,” ujar Tulus.

Menurut dia, angkutan massal hemat energi semestinya yang menjadi pilihan utama masyarakat dalam menggunakan moda transportasi. Jika pun belum tersedia, sebaiknya pilih alat transportasi yang sangat hemat BBM. Misalnya, dengan menggunakan sepeda motor yang hemat bahan bakar. “Kalau diminta memilih, tentu saya akan cari kendaraan yang hemat dan efisien dalam hal waktu, seperti naik sepeda motor yang hemat BBM,” ujar Iyan WK, salah satu anggota komunitas sepeda motor di Semarang.

Menurut dia, sebagai pelajar, tentu perlu menghemat pengeluaran, karena uang saku pas-pasan. Jika naik kendaraan umum, selain ongkosnya sudah naik karena dampak kenaikan harga BBM, juga tidak efisien dalam waktu tempuh. “Dengan sepeda motor, saya bisa tiba di sekolah dengan cepat, tidak kena macet, dan sangat efektif dikendarai ke tujuan mana saja,” tuturnya.

Berdasarkan catatan koran ini, sejumlah produsen berlomba mengeluarkan produknya untuk menghasilkan motor hemat BBM. Salah satunya Honda yang melakukan inovasi lewat teknologi injeksi PGM FI. Seluruh motor Honda saat ini sudah menggunakan teknologi ini yang ternyata lebih hemat 30 persen dari generasi sebelumnya.

Salah satu contohnya, motor Honda Beat PGM FI. Motor matic kelas terendah Honda ini pernah diuji konsumsi BBM-nya pada Oktober 2012 lalu, ternyata mampu mengonsumsi 90,3 km/liter (dengan metode pengukuran ECE R40). Beat berhasil mempertahankan posisinya sebagai sepeda motor paling irit di kelasnya. Malah, kehadiran Beat bisa menepis anggapan bahwa motor matic sangat boros.

Sejumlah pengguna sepeda motor lainnya mengaku memilih sepeda motor sebagai moda transportasi mereka dalam menjalani aktivitas ketimbang moda transportasi lainnya. Menurut mereka, konsumsi BBM sepeda motor sangat rendah. Sepeda motor juga bisa menghindari kemacetan, sehingga lebih efisien untuk waktu tempuh.

Odit Maryuwanto, pendiri Semarang CB Club mengatakan, dalam memilih sepeda motor pun ia dan anggota komunitasnya tidak sembarang memilih. Sepeda motor yang terkenal hemat BBM-lah yang menjadi pilihan terbaik. Sebab, konsumsi BBM yang rendah, jelas menekan biaya pengeluaran sehari-hari, termasuk menjaga lingkungan agar tetap lestari.

Diakui, komunitas sepeda motornya melihat Honda sebagai motor yang hemat BBM. Keunggulan itu yang menjadi pilihan utama masyarakat memilih Honda. Jadi, lanjut Odit, jika kocek memang tidak tebal, konsumen jelas akan memilih Honda, ketimbang merek lain.

Hal senada dikatakan Raditya Ryan, pengurus Honda Street Fire Club Semarang Indonesia. Menurut dia, kebanyakan anggota komunitasnya memilih Honda selain modelnya yang bagus, juga karena lebih irit BBM ketimbang motor merek lain yang sejenis. “Yang utama memang dari sisi konsumsi BBM, selain itu karena mesinnya bandel, daya tahan yang lebih baik, dan suku cadangnya terjangkau serta tersedia di banyak tempat,” tuturnya.

Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala menjelaskan, sejak kenaikan BBM, banyak masyarakat yang memilih sepeda motor sebagai alat transportasi mereka. Pasalnya, sepeda motorlah yang memang menggunakan BBM paling sedikit ketimbang moda transportasi lainnya. “Masyarakat juga makin rasional, dengan harga BBM yang makin tinggi, dan biaya kebutuhan-kebutuhan lain melonjak, mereka memilih motor yang paling hemat. Sehingga bisa menekan pengeluaran sehari-hari,” katanya dalam rilis yang diterima Jawa Pos Radar Semarang. (*/aro)