KALIBANTENG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang akan menetapkan status buron kepada Harini, tersangka kasus dugaan penyimpangan keuangan program Semarang Pesona Asia (SPA) tahun 2007, jika yang bersangkutan tetap mangkir pada pemeriksaan Senin (13/4) lusa.

Selama ini tim penyidik Kejari telah melakukan pencarian terhadap Harini, baik di rumahnya dan disejumlah rumah sakit (RS) di Kota Semarang. Namun pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Dan kemarin (10/4), penyidik kembali mencari Harini di RS Elisabeth, sesuai informasi yang didapat. Hasilnya kembali nihil.

Kasi Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejari Semarang, Sutrisno Margi Utomo mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat panggilan pemeriksaan kepada Harini pada Senin lusa. ”Barusan saya dapat informasi yang bersangkutan (Harini) berobat ke Jakarta. Dan laporan yang saya terima, dia akan hadir dan mengembalikan sejumlah uang. Kita tunggu saja semoga hal itu benar, jika tidak maka Kejari Semarang akan menetapkan status buronan. Dan akan melakukan penangkapan di mana pun dia berada,” ungkapnya.

Sutrisno merasa geram dengan keberadaan Harini yang sulit ditemui. ”Lha kalau sakit dicek tidak ada, kita jadi gemes,” kata Sutrisno sambil tertawa, Jumat (10/4).

Kalau kondisinya tersangka seperti ini, lanjut Sutrisno, Harini mulai mengganggu proses penyidikan. ”Ibu Harini kelihatan mulai mengganggu proses penyidikan. Sebelumnya sudah dipanggil secara resmi namun sakit dan sudah terjadi lebih dari sekali, ketika tim penyidik hendak memastikan kondisi beliau (Harini), keberadaannya justru tidak diketahui,” ujarnya.

Sutrisno mengakui, kalau memang Harini sakit, penyidik tidak mempermasalahkan. ”Kalau dia (Harini) sakit tidak masalah, tapi di mana sakitnya. Kita hanya memastikan saja, kalau memang sakit semoga sembuh tapi dia (Harini) di mananya itu lho,” ungkapnya.

Dia juga akan melakukan tindakan tegas apabila ada pihak-pihak tertentu yang mencoba menghalang-halangi proses penyidikan. ”Kami tidak segan-segan akan melakukan tindakan tegas kalau ada yang halang-halangi. Kalau tidak sakit kami akan lakukan upaya-upaya tindakan selanjutnya,” sebutnya.

Kepala Kejari Semarang, DR Asep Nana Mulyana mengatakan, pengecekan tersebut untuk mencari second opinion, yakni pendapat kedua atau pendapat bandingan. ”Dra H (Harini) sudah dipangil berkali-kali tapi beralasan sakit, kemarin memang ada surat keterangan istirahat dari penasihat hukum tersangka. Atas dasar itu, tim penyidik menyambangi ke rumah Dra H untuk memastikan kepastian kesehatan apakah benar sakit atau tidak,” katanya.

Sementara itu, penasihat hukum tersangka, Prasetyo Ipoet mengaku belum mengetahui keberadaan kliennya saat ini. ”Coba saya tanyakan dulu Mas,” jawab Prasetyo, melalui handphone-nya.

Seperti diketahui, audit sementara kerugian negara masih terfokus pada penggunaan anggaran dari Pemkot Semarang sebesar Rp 3,5 miliar. Saat ini, penyidik sudah menemukan kerugian sementara yaitu sebesar Rp 406 juta. (bj/zal/ce1)