PUPUK ILEGAL: Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Liliek Darmanto bersama Kapolres Semarang AKBP Muslimin Ahmad, menunjukkan tersangka Sri Lestari dan barang bukti pupuk ilegal. (PRISTYONO HARTANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUPUK ILEGAL: Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Liliek Darmanto bersama Kapolres Semarang AKBP Muslimin Ahmad, menunjukkan tersangka Sri Lestari dan barang bukti pupuk ilegal. (PRISTYONO HARTANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUPUK ILEGAL: Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Liliek Darmanto bersama Kapolres Semarang AKBP Muslimin Ahmad, menunjukkan tersangka Sri Lestari dan barang bukti pupuk ilegal. (PRISTYONO HARTANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN- Setelah dilakukan pemeriksaan intensif dari hasil inspeksi mendadak (sidak) di gudang distribusi pupuk di lingkungan Kelurahan Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, polisi akhirnya menetapkan pengelola gudang sekaligus pabrik CV Imexindo Nusantara, Sri Lestari, 34, warga Ngempon sebagai tersangka. Sri ditetapkan tersangka karena dinilai melanggar aturan. Sebab, pupuk yang digunakan tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tidak dilengkapi dokumen yang sah dari pemerintah. Polisi juga menyita ratusan pupuk ilegal, seperti Fastgro NPK Super Green, Fastgro Nutrision Plus, Nongfeng Buah, Nongfeng Daun serta Farmpion. Selain itu, juga disita mesin pengoplos pupuk dan mesin pengemas.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Liliek Darmanto, mengatakan, terungkapnya tempat produksi pupuk ilegal berawal dari laporan masyarakat yang mencuriga aktivitas CV Imexindo Nusantara. Selanjutnya dilakukan pengecekan, dan didapati ada produksi pupuk yang tidak sesuai standar.

Lebih detail Liliek menjelaskan, tersangka mengoplos pupuk dengan berbagai bahan kimia. Hasil campuran yang sudah jadi selanjutnya dikemas dalam berbagai merek.

“Tempat ini telah memproduksi, mendistribusi, dan perdagangan pupuk tanpa SNI, serta tak dilengkapi dokumen yang sah dari pemerintah. Pupuk merek tersebut memang ada di pasaran, namun yang diproduksi ini palsu,” kata Lilik dalam gelar perkara di Mapolres Semarang, Jumat (10/4).

Ditambahkan Kapolres Semarang AKBP Muslimin Ahmad, tersangka Sri telah memproduksi pupuk tersebut sejak sekitar setahun lalu. Pupuk-pupuk tersebut telah didistribusikan dan dijual ke berbagai daerah luar Jawa. Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat pasal 62 ayat (1) jo pasal 9 ayat (1) huruf h UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Selain itu polisi juga akan menjerat Sri Lestari dengan pasal 120 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian serta pasal 60 ayat (1) huruf f UU Nomor 12 tentang Sistem Budidaya Tanaman. “Tersangka terancam hukuman lima tahun penjara atau denda maksimal Rp 2 miliar,” pungkas kapolres. (tyo/aro)