SEMARANG – Para pengecer memanfaatkan momen kenaikan permintaan elpiji bersubsidi 3 kg atau gas melon, pasca melonjaknya harga elpiji 12 kg, 1 April lalu. Mereka mematok harga seenaknya karena konsumen mau tidak mau harus membelinya untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Dari pantauan Radar Semarang, pengecer gas melon di wilayah Mijen membanderol hingga Rp 20 ribu per tabung. Padahal, dia mengambil lewat pangkalan hanya Rp 15.500. Sementara harga elpiji 3 kg di daerah perkotaan masih wajar. Antara Rp 17 ribu-Rp 18 ribu.

Melihat fenomena itu, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng meminta Wali Kota atau Bupati segera menetapkan harga eceran tertinggi (HET) di tingkat pengecer agar konsumen tidak dirugikan.

Kepala Seksi Pengawasan Migas Dinas ESDM Jateng Harijanto menuturkan, bukan hanya pangkalan dan agen saja, HET di tingkat pengecer juga harus dipertegas. “Ini tugas kepala daerah untuk menentukan HET karena peta Pertamina dan jajaran pengawas distribusi elpiji bersubsidi hanya sampai tingkat pangkalan saja. Sebenarnya kan tidak ada istilah pengecer. Hanya saja mereka memberikan kemudahan bagi warga sekitar agar lebih dekat membeli gas,” ungkapnya, kemarin.

Jika tidak segera ditentukan, lanjut Harijanto, elpiji yang sengaja dimurahkan pemerintah, justru menjadi mahal. Secara tidak langsung, negara akan mengalami kerugian gara-gara permainan harga pengecer. Dia berarap ada peran aktif dari masyarakat mengenai distribusi gas melon ini. Jika melihat ada pelanggaran, lebih baik segera dilaporkan ke Pertamina atau Dinas ESDM.

“Tidak perlu khawatir wilayahnya tidak mendapat pasokan elpiji karena pangkalan atau agen nakal yang biasa menyuplai, dinonaktifkan. Pasalnya, Pertamina akan menunjuk yang baru untuk menggantikannya. Kalau belum ada yang memenuhi syarat, akan ada pangkalan dari daerah lain yang memasok daerah Anda,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya yang juga didapuk menjadi salah satu pengawas distribusi elpiji bersubsidi mengimbau kepada masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi berkecukupan untuk tidak menggunakan gas melon. “Elpiji 3 kg ini diperuntukkan untuk warga yang kurang mampu. Jika yang kaya ikut-ikutan menggunakan gas ini, praktis jatahnya akan berkurang. Dan subisidi ini jadi kurang tepat sasaran,” pungkasnya. (amh/smu)