Tekan Penyimpangan Penyaluran Pupuk

187

SEMARANG – Kartu Tani yang terintegrasi dengan kartu anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Rakyat Indonesia (BRI) tidak dikenai biaya apapun, yakni biaya administrasi, biaya penutupan rekening, maupun biaya pemeliharaan kartu ATM. Demikian juga dengan saldo setoran awal dan saldo minimun setelah penarikan adalah Rp 0.

Penegasan ini dikemukakan Kepala Kanwil BRI Semarang Achmad Chairul Gani, kepada wartawan di kantornya, Kamis (9/5) kemarin. Peniadaan biaya ini agar tidak membebani para petani Indonesia. Namun tidak adanya biaya ini para petani yang masuk nasabah BRI, tidak bisa mengikuti undian Simpedes, mengingat untuk dapat mengikuti undian, harus memiliki saldo minimum sebagai persyaratan. “Kami tidak ingin membebani para petani, tetapi justru kami ingin memfasilitasi petani, sehingga semakin mudah dalam mendapatkan pupuk bersubsidi, sesuai kuota yang tertera di dalam kartu tani,” tegasnya.

Menurut Gani, penerbitan kartu tani ini merupakan dalam rangka mendukung program kedaulatan pangan pemerintah khususnya untuk pendistribusian dan penggunaan pupuk bersubsidi, sehingga tidak ada lagi penyimpangan, yang akan merugikan petani dan pemerintah.

BRI dalam kerjasama dengan Pemprov Jateng telah mengembangkan aplikasi SIMPI (Sistim Manajemen Pangan Indonesia. Adanya sistim ini mekanismu pengusulan dan penetapan alokasi pupuk bersubsidi yang dimulai dengan Rencana Definitif Kerja Kelompok (RDKK) kelompok tani yang telah disahkan oleh pihak berwenang baik ditingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan pusat sampai dengan penetapan dan pengalokasi pupuk bersubsidi ke tingkat petani akan tercatat di aplikasi SIMPI.

Adanya kartu tani ini ini , akan memudahkan petani untuk mendapatkan pupuk besubsidi sesuai alokasi yang ditetapkan, sekaligus belajar menabung. Sedangkan untuk pemerintah akan mendapatkan database jumlah petani Jateng, memudahklan monitoring penyaluran pupuk ke penerima subsidi, sehingga pada akhirnya mampu menekan penyimpangan dalam penyaluran pupuk bersubsidi. Sedangkan bagi pengecer, pembeli pupuk sudah pasti mendapat dana ke rekening dan mendapat penghasilan tambahan sebagai agen BRI.

Menyingung,jika alokasi pupuk yang dibutuhkan petani, tidak mencukupi kebutuhan, petani ini bisa mendapat tambahan alokasi daerah daerah lain yang alokasinya berlebih, dengan izin dari pemerintah daerah tersebut baik ditingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi. “Bila terjadi kekurangan pupuk bersubsidi, dari data inilah pemerintah provinvi akan mengajukan penambahan alokasi pupuk bersubsidi ke pusat. Jadi adanya kartu tani ini akan memudahkan para petani membeli pupuk, dan pemerintah juga mudah mendapatkan data kebutuhan pupuk bersubsidi yang diperlukan petani,” jelas Ka Kanwil BRI Semarang Achmad Chariul Gani. (tya/smu)