Penjualan Elpiji 3 kg Melonjak

158
EFEK MIGRASI: Kenaikan harga elpiji 12 kg membuat masyarakat lebih memilik elipiji bersubsidi ukuran 3 kg yang membuat permintaan elpiji yang dikenal sebagai tabung melon ini melonjak tajam. (ADITYO DWI R/RADAR SEMARANG)
EFEK MIGRASI: Kenaikan harga elpiji 12 kg membuat masyarakat lebih memilik elipiji bersubsidi ukuran 3 kg yang membuat permintaan elpiji yang dikenal sebagai tabung melon ini melonjak tajam. (ADITYO DWI R/RADAR SEMARANG)
EFEK MIGRASI: Kenaikan harga elpiji 12 kg membuat masyarakat lebih memilik elipiji bersubsidi ukuran 3 kg yang membuat permintaan elpiji yang dikenal sebagai tabung melon ini melonjak tajam. (ADITYO DWI R/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sejak harga elpiji 12 kg melonjak Rp 8.000 per tabung menjadi Rp 141 ribu, mulai 1 April lalu, banyak konsumen bermigrasi ke gas bersubsidi 3 kg atau tabung melon. Penjualan tabung melon diperkirakan meningkat hingga 30 persen.

Pengelola salah satu pangkalan di bilangan Banyumanik Sri Ismu mengaku kelarisan eliji 3 kg. Sementara permintaan tabung yang 12 kg terus menurun. “Sejak harganya naik, jarang ada yang beli 12 kg. Paling hanya segelintir saja. Para pembeli lebih memilih yang 3 kg karena jatuhnya harga lebih murah. Permintaannya kira-kira meningkat 20-30 persen. Bahkan ada beberapa konsumen yang beli lima sekaligus,” paparnya.

Senada dengan pangkalan di daerah Sampangan. Ronald, salah satu pengelola juga merasakan adanya pergeseran konsumsi gas elpiji yang cukup signifikan. Bahkan dia telah meminta penambahan stok karena tidak bisa memehuni permintaan warga sekitar. “Ini memang gara-gara harga gas yang 12 kg menanjak. Beberapa café dan restoran yang biasanya membeli elpiji besar, kini memilih yang 3 kg. Praktis, stok yang biasanya diambil untuk kebutuhan rumah tangga jadi cepat ludes,” jelasnya.

Begitu pula dengan Bandrio. Pengecer gas melon di areal Purwoyoso ini mampu menjual 25 tabung dalam tiga hari. Dia mengaku, banyak pembeli baru dari kampung lain yang sering menanyakan stok di warungnya. “Hampir setiap saat ada yang bertanya, ‘Pak, masih ada gas, nggak?’ Sambil nggotong tabung, gitu. Mereka bukan warga sini,” tuturnya.

Meski permintaannya melonjak, Bandrio tetap menjual gas melon Rp 17 ribu per tabung dan tidak menaikkannya. “Soalnya saya juga gemas kalau ada pedagang yang aji mumpung dan menaikkan harga seenaknya sendiri,” pungkasnya. (amh/smu)