Menilik Masjid An Nur yang Diresmikan Dahlan Iskan

229
MEGAH : Masjid An Nur yang diresmikan Dahlan Iskan berdiri megah tepat di jalur Pantura Kabupaten Tegal. (R GUNAWAN/RADAR SLAWI/JPNN)
MEGAH : Masjid An Nur yang diresmikan Dahlan Iskan berdiri megah tepat di jalur Pantura Kabupaten Tegal. (R GUNAWAN/RADAR SLAWI/JPNN)
MEGAH : Masjid An Nur yang diresmikan Dahlan Iskan berdiri megah tepat di jalur Pantura Kabupaten Tegal. (R GUNAWAN/RADAR SLAWI/JPNN)

Masjid An Nur yang berada di kompleks PLN Rayon Tegal Timur, Dampyak Kabupaten Tegal berdiri megah tepat di jalur Pantura. Selain warga sekitar, banyak para penguna jalan yang sengaja berhenti untuk beribadah atau sekadar beristirahat.
R GUNAWAN, Slawi

MASJID An Nur dibangun atas restu Dahlan Iskan yang saat itu menjabat sebagai direktur utama (Dirut) PLN. Namun saat pembangunan berlangsung, Dahlan Iskan tidak lagi menjabat sebagai dirut PLN, tetapi menjadi Menteri BUMN dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Saat itulah, masjid tersebut diresmikan Dahlan Iskan sekaligus melakukan kunjungan kerja ke Tegal.

Kemegahan masjid yang didominasi warna kuning tersebut ternyata menjadi daya tarik bagi pengguna jalur Pantura. Misalnya, Supriyanto, 53, warga Magetan, Jawa Timur, yang sengaja berhenti untuk salat dan beristirahat sejenak. “Lokasi masjid yang sangat strategis, parkir luas, bersih, dan memiliki ornamen yang khas membuat pengunjung merasa betah saat berada di dalamnya,” katanya.

Tidak heran jika tiba saatnya salat, banyak pengguna jalan yang berhenti dan berbaur dengan jamaah dari wilayah sekitar. Di sana, dia juga mendapatkan air minum secara gratis yang disediakan pengurus masjid.

Menurut dia, masjid di sepanjang jalur Pantura sangat banyak. Masing-masing memiliki ciri khas. Namun, di masjid tersebut, pihaknya mengaku sangat terkesan dan tak akan terlupakan. ”Saya kaget saat melihat prasasti di bagian depan, ternyata masjid ini diresmikan oleh Pak Dahlan Iskan. Karena sama-sama orang Jawa Timur, kami sangat mengenal sosok beliau (Dahlan, red),” katanya.

Lukman, 49, warga sekitar mengaku bangga dengan berdirinya Masjid An Nur. Menurut dia, saat salat Jumat, masjid tersebut dipenuhi kendaraan luar kota. Mereka ternyata tidak sekadar salat, tetapi banyak yang melihat arsitektur masjid dan berfoto di beberapa sudut yang dianggap bagus. Sejak didirikan, masjid tersebut seolah menjadi magnet bukan hanya untuk warga dan pegawai PLN saja, tetapi banyak jamaah yang sengaja datang dari wilayah lain.

Dia mengaku, di masjid tersebut dijadikan pusat kegiatan, antara lain jamiyahan, peringatan hari besar Islam, dan lainnya. Sehingga setiap hari selalu ramai oleh jamaah. ”Di akhir pekan atau hari libur, justru pengunjung didominasi dari luar kota yang ingin beribadah sekaligus beristirahat,” tandasnya. (*/fat/jpnn/ida)