BARU TAHU MERICA OPLOSAN : Pedagang kelontong di Pasar Raya I Salatiga yang menjual beragam bumbu dapur untuk kalangan ibu rumah tangga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARU TAHU MERICA OPLOSAN : Pedagang kelontong di Pasar Raya I Salatiga yang menjual beragam bumbu dapur untuk kalangan ibu rumah tangga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARU TAHU MERICA OPLOSAN : Pedagang kelontong di Pasar Raya I Salatiga yang menjual beragam bumbu dapur untuk kalangan ibu rumah tangga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Peredaran merica oplosan di Pasar Salatiga, akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Banyak pembeli yang tertipu dan memilih merica yang dioplos dengan sagu, lanatran harganya lebih murah hanya Rp 80 ribu/kg. Sedangkan merica asli harganya lebih mahal berkisar Rp 220 ribu/kg.

Dari keterangan yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semarang di lokasi kejadian, pengedar merica oplosan menggunakan sepeda motor. Harganya 100 persen lebih murah. Campuran merica adalah sagu yang telah dihaluskan. Jika tidak teliti, maka terlihat sama.

Dwi Nuryadi, 46, pemilik warung makan di samping Taman Bendosari Kota Salatiga mengatakan bahwa peredaran merica oplosan di sejumlah pasar tradisional di Salatiga telah berlangsung lama. Seorang lelaki yang mengedarkan selalu menawarkan harga yang murah, satu plastik kecil dihargai Rp 5.000. Dari harga ini, akhirnya banyak yang membeli.

“Sekilas, tidak tampak perbedaan antara merica oplosan dan yang asli. Tapi, jika lebih diteliti, bentuk butiran merica oplosan jauh berbeda dengan merica asli,” tuturnya.

Dijelaskan, merica oplosan lebih mudah pecah dan rasanya tidak pedas. Merica oplosan yang sudah berada di dalam kemasan, oleh pengedarnya sengaja dicampur dengan merica asli untuk mengelabuhi konsumen. Untuk harga oplosan berkisar Rp 80.000 per kilogram dan merica asli Rp 220.000 per kilogramnya.

Hal senada diungkapkan Slamet, 40, salah seorang pedagang di Pasar Blauran, Salatiga. Peredaran merica oplosan di Salatiga sudah lama. Sebelum mengetahui jika itu oplosan, banyak pedagang yang berminat. Namun, setelah tahu itu oplosan, banyak yang tidak mau lagi membeli.

Ciri-cirinya, merica oplosan mudah hancur, baunya sangat berbeda dengan yang asli. Warnanya yang oplosan putih karena terbuat dari sagu.

“Yang jelas, mrica oplosan itu sudah lama masuk sejumlah pasar tradisional di Salatiga. Dari sini, kami dan para pedagang berharap, dinas terkait segera melakukan penyelidikan maraknya merica oplosan ini,” tandas Slamet didampingi Wagiyem, 57, pedagang yang lain di Pasar Blauran Salatiga. (abd/ida)