DITANGKAP : Pelaku traficking akhirnya ditangkap pada Selasa (7/4) malam dan selanjutnya dimintai keterangan di ruang PPA Polres Pekalongan Kota. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITANGKAP : Pelaku traficking akhirnya ditangkap pada Selasa (7/4) malam dan selanjutnya dimintai keterangan di ruang PPA Polres Pekalongan Kota. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITANGKAP : Pelaku traficking akhirnya ditangkap pada Selasa (7/4) malam dan selanjutnya dimintai keterangan di ruang PPA Polres Pekalongan Kota. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN–Tim Buser Reskrim Polres Pekalongan Kota akhirnya berhasil meringkus dua orang tersangka pelaku human traficking Anak Baru Gede (ABG). Adalah Heri Siswanto, 29, warga Kelurahan Landungsari Gang 7 Kel Noyotaan Sari, Kecamatan Pekalongan Timur dan Endang Suyanti, 32, warga Pasirsari, Kelurahan Pasir Kraton Kramat, Kecamatan Pekalongan Barat, ditangkap pada Selasa (7/4) malam.

Perlu diketahui, penangkapan tersebut merupakan hasil pengembangan atas kasus penganiayaan yang dilaporkan M Misbakhul Anam, 21, warga Warungasem RT 4/RW 4 Batang, Minggu pagi (29/3) lalu pukul 08.00. Anam yang mengaku sedang tidur bareng MD, 16, di Dukuh Sidomulyo Gang 1 Kelurahan Pasirsari Kecamatan Pekalongan Barat Kota Pekalongan, tiba-tiba didatangi kerabat MD.
Meliputi Umar Mafud alias Sempok, 27, warga Kergon Gang 11 Pekalongan; Nur Supeno, 40, warga Kuripan Lor Pekalongan Selatan Kota Pekalongan; dan Andre alias Cieng, 25, warga Podosugih Pekalongan Barat Kota Pekalongan. Kerabat MD tidak terima, MD diperlakukan seperti itu. Hingga akhirnya kedua belah pihak saling lapor di hari yang sama, namun beda jam. Dari pengembangan kasus penganiayaan tersebut, akhirnya diketahui jika MD ternyata korban human trafficking.

Kepada wartawan, Heri yang baru saja ditangkap mengaku kenal MD sudah lama, namun baru akrab seminggu terakhir sebelum dijual ke mucikari bernama Endang. “Awalnya saya dikenalkan sama teman. Baru seminggu, saya akrab sama MD. Dia curhat katanya mau kerja, lalu saya tawari berhubungan badan dan saya bayar Rp 50 ribu,” ujar Heri.

Setelah berhubungan badan sekali, Heri berinisiatif menjual MD kepada Endang, mucikari yang memiliki persewaan kamar di Bendingsari Pekalongan Barat. Akhirnya MD, dipekerjakan untuk melayani tamunya Endang, sejak rentang waktu Februari hingga Maret 2015.

Lantaran merasa berjasa, selama itu pula, Heri kerap memanfaatkan tubuh gadis yang masih belia itu secara gratis. “Pertama kali saya bayar ke MD dan Endang. Tapi setelah itu, selama lima kali melakukan hubungan tidak pernah bayar kepada keduanya,” ujarnya.

Tidak hanya mendapatkan pelayanan seksual, Heri juga memeras uang MD. Dengan alasan utang dan kebutuhan lainnya. “Uangnya saya pakai buat makan dan beli rokok,” terang Heri.

Endang yang juga dimintai keterangan, mengaku korban MD datang sendiri ke tempat usahanya. “Orangnya datang sendiri bareng Heri, ya saya terima saja. Saya juga tidak tahu ada transaksi apa antara Heri dengan MD. Saya juga tidak merasa menjual dia (MD, red), hanya dia minta kerja di tempat saya saja,” terangnya.

Selama bekerja di rumah bordir miliknya, Endang mengaku mendapat penghasilan dengan menyewakan kamar per orang Rp 15 ribu semalam. Dalam semalam dirinya bisa dapat 5 sampai 7 kali tamu untuk satu orang. Endang memiliki dua anak buah. “Sebelumnya anak buah saya dewasa semua, baru kemarin dapat ABG,” tuturnya.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Luthfie Sulistiawan melalui Kasatreskrim AKP Bambang Purnomo, mengungkapkan bahwa pihaknya berhasil menangkap kedua pelaku human trafficking. “Sebelumnya kami menangkap pemilik tempat prostitusi, darinya bisa terungkap bahwa Heri yang menjual korban ke germo,” terang Bambang.

Dugaan adanya korban lain yang diperjualbelikan kedua pelaku masih didalami lebih lanjut. Bambang juga menerangkan bahwa kedua pelaku akan diancam dengan pasal trafficking atau penjualan orang dan UU perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sementara itu, MD sendiri ketika dimintai keterangan oleh pihak kepolisian mengaku jika awalnya dia hanya minta pekerjaan kepada Heri. Namun akhirnya dipaksa untuk melayani tamu. Hingga keterusan sampai ada kasus penganiayan yang berujung pelaporan ke polisis. “Waktu itu, awalnya saya tidak mau. Tapi Heri memaksa, karena Endang sudah mendapatkan tamu. Akhirnya terpaksa saya layani, karena saya butuh kerja,” sesalnya saat didampingi ibunya kala itu. (*/han/ida)