PEKALONGAN-Perseteruan antara pengurus Yayasan Salafiyah Abunawar (Yusuf, Toyibin dan saudaranya) dan pengelola MTs At Thohiriyah (M Thohir) Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, masih berlanjut. Yakni, saat pelaksanaan Ujian Madrasah (UM) hari kedua, Selasa (7/4) kemarin di Balai Desa Simbang Wetan Kabupaten Pekalongan.

Perseteruan tersebut dipicu munculnya dugaan dari para siswa dan guru MTs At Thoriyah bahwa pengurus yayasan berusaha menggagalkan ujian madrasah. Hal tersebut didasari oleh ulah pengurus yang mengubah jadwal ujian tidak sesuai dengan jadwal resmi dari Kemenag Kabupaten Pekalongan.

Kedatangan Kepala Kemenag Kabupaten Pekalongan, M Umar, malah diajak debat oleh pengurus yayasan. “Panggil kepala MTs, karena dia yang harus bertanggung jawab,” bentaknya kepada pengurus (Yusuf cs). Bahkan ke-34 siswa yang akan ikut ujian, turut geram sehingga meneriaki pengurus karena bicara tanpa fakta.

Kepala Kemenag yang baru hadir kali ini mengungkapkan bahwa kemarin dirinya masih ada acara di Semarang. “Intinya kemarin kami masih khusnudzon dengan kedua belah pihak. Yakni, pengelola dan yayasan bisa menyelesaikan pertikaian. Tapi tidak tahunya, kalau sampai seperti ini jadinya. Kami berharap, kepentingan siswa lebih diutamakan,” ucap Umar.

Umar menegaskan bahwa intinya siswa harus bisa ujian sampai selesai di madrasahnya sendiri. ”Ujian sebenarnya harus dilaksanakan oleh madrasah yang bersangkutan. Yakni, tempat dimana mereka belajar selama ini. Tidak di tempat lain dan diurusi oleh yayasan. Itu kurang tepat,” tegas dia.

Terkait masalah antara pengelola dan yayasan, Kemenag menegaskan bahwa hak tegur hanya ke madrasah bukan yayasan. ”Yang kami akui kepala sekolah. Meski memang yang mengajukan yayasan, karena yayasan juga legal. Sehingga saya meminta pertanggungjawaban ke madrasah melalui kepala sekolah. Kenapa sampai siswa tidak bisa ujian,” bebernya.

Yayasan Salafiyah Abunawar tercatat telah dua kali mengganti kepala sekolah sejak memberhentikan Thohir. Saat ini, yang menjadi kepala sekolah terbaru adalah Hajid Hariri. Sehingga kini yang bertanggung jawab adalah dia. Namun saat dihubungi lewat handphone, yang bersangkutan tidak menjawab telepon.

Terkait langkah kongkrit dari Kemenag, ke depannya belum bisa menjawab. Karena, kata Umar, butuh waktu. Intinya sekarang, bagaimana siswa bisa ujian dulu. ”Kalau sanksi, kami menunggu hasil semua ini, seperti apa nantinya masih belum tahu,” tandas Umar.

Sementara itu, guru dan siswa MTs At Thohiriyah saat dimintai keterangan mengungkapkan bahwa mereka memang tidak nyaman jika harus ujian di tempat baru. Bahkan mereka sangat heran kenapa jadwal ujian bisa diganti. Padahal sebelumnya sudah disosialisasikan jadwal dari Kemenag.

“Yang membuat siswa bertambah jengkel, jadwal ujian diganti. Sehari cuma satu mata pelajaran. Padahal jika menganut jadwal normal, seharusnya sehari dua mata pelajaran. Mereka (pengurus) tidak tahu perintah KKM (Komite Kepala Madrasah) MTs. Sehingga jadwal dibuat semaunya sendiri,” terang Guru Seni Budaya dan Matematika, Zamroni.

Saat ditanya perihal perubahan jadwal ujian, Ketua Pengurus Yayasan, Yusuf mengelak beralasan salah ketik. Kendati begitu, Yusuf tetap ngotot bahwa yang dilakukannya benar adanya.

Mengetahui hal tersebut, Ketua KKM MTs Kabupaten Pekalongan, Urip Sudiono menegaskan bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan pihak madrasah melalui kepala sekolah yang baru. “Tidak benar jika kami tidak mengomunikasikan perihal jadwal, kami terus memberikan informasi jadwal yang tepat,” tegasnya sembari emosi.

Sehingga semua kalangan berpendapat jika yayasan sengaja hendak menggagalkan ujian. Sesuai tujuan semula agar semakin kacau keadaan di MTs At Thoriyah.

Zamroni juga mengungkapkan bahwa selama ini selain kepala sekolah, guru pengajar juga diintimidasi. Guru diancam akan dipecat, jika tidak mendukung Yusuf cs. Sering di-SMS yang berisi ancaman harus patuh dengan yayasan. Jika tidak, akan dipecat.

Sehingga dari 16 guru, 2 orang mau ikut ke Watusalam (tempat baru area yayasan dan gedung MA). Namun satu orang itu akan dijadikan kepala sekolah, yang satu orang lagi, adik dari Yusuf sendiri. Selain itu, pengurus juga mengintimidasi semua siswa dengan mendatangi ke rumah satu persatu, memaksa membuat pernyataan di atas materai. Jika tidak mau pindah ke gedung baru, tidak akan diluluskan dan dipersulit kelulusannya.

Slah satu guru, Nita Yuliati, mengaku selama ini sudah belajar dan mengajar di tempat lama dan merasa nyaman. “Selama 4 tahun sejak sekolah ini didirikan, keadaan selalu kondusif. Namun sejak pengurus yayasan berulah, keadaan jadi seperti ini, sehingga guru dan murid menjadi korban,” sesal guru guru Bahasa Arab ini.

Dua murid yang sejak Senin (6/4) sudah ujian di lokasi baru baru, disepakati akan diajak ujian di lokasi Balai Desa Simbang Wetan bersama ke-34 siswa yang tidak mau ujian di tempat baru. Akhirnya aparat Polsek Buaran dan Koramil Buaran mengambil kedua siswa tersebut. Walaupun awalnya pengurus yayasan masih tidak setuju diambil, aparat sukses membawa kedua siswa untuk ujian kedua di tempat baru. Karena sebelumnya kedua siswa hanya ujian satu kali. Menuruti jadwal yang diberikan oleh yayasan, agar tidak tertinggal diajak ikut ujian bersama. (*/han/ida)