Alumni Undip Keruk Rp 2,1 M

137
TELLER CERDIK: Tersangka Dominico Bagus Aditya saat digelandang penyidik Kejati Jateng. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TELLER CERDIK: Tersangka Dominico Bagus Aditya saat digelandang penyidik Kejati Jateng. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TELLER CERDIK: Tersangka Dominico Bagus Aditya saat digelandang penyidik Kejati Jateng. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PLEBURAN – Alumni Diploma III (D3) jurusan Sekretaris, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dominico Bagus Aditya, 25, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyelewengan uang kas ATM Bank BRI Kantor Cabang (Kanca) Pandanaran, Semarang, sebesar Rp 2,1 miliar. Dugaan korupsi tersebut dilakukan tersangka saat menjadi pegawai kontrak Bank BRI Pandanaran pada 2013-2015. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng langsung menjebloskan Dominico Bagus Aditya ke Lapas Kedungpane, Selasa (7/4) kemarin.

Kepala Kejati Jateng, Hartadi, menjelaskan, tersangka merupakan pengawai Bank BRI Kanca Pandanaran yang bertugas sebagai teller. ”Posisi pekerjaan tersangka mulai 30 Maret 2013 adalah tenaga outsourcing di BRI Pandanaran. Namun pada 1 Desember 2013 tersangka diangkat menjadi pegawai kontrak dan diberi tugas di bagian teller. Tugasnya sempat diperpanjang hingga November 2015,” terang Hartadi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat menjadi teller, lanjut Hartadi, tersangka mempunyai niat jahat mengambil uang di kas ATM Bank BRI. Hartadi mencontohkan, seharusnya kas ATM tersebut diisi Rp 100 ribu, namun oleh tersangka hanya diisi Rp 80 ribu.

”Pada 2013, BRI Cabang Pandanaran mengelola 56 ATM. Dari uang-uang yang seharusnya dimasukkan di ATM tersebut, sebagian disimpan tersangka di brankas tempat dia bertugas, untuk menutupi kekurangan uang tersebut dicatat di handphone-nya. Cara seperti itu terus diulang oleh tersangka,” ungkapnya.

Hartadi menyebutkan, pada 9 Februari 2015 terjadi pergantian Asisten Manajer Operasional (AMO) dari FX Riyanto Wirawan kepada Yulianti, dan pada hari itu juga tersangka mengajukan penambahan kas ATM sebesar Rp 2,9 miliar. Yulianti tidak menolak, namun hanya memerintahkan tersangka agar mengisi secukupnya saja. Tak perlu diisi penuh.

Dari situ tersangka mulai panik, karena harus menutupi semua kekurangan kas yang selama ini dia ambil. Untuk menutupi kekurangannya, tersangka mencoba mengambil uang di CDM (cash deposit machine) galeri BRI Kanca Semarang Pandanaran, milik nasabah. Hal itu mudah dilakukan karena dia merupakan teller CDM. ”Namun salah seorang nasabah komplain (kehilangan saldo tabungan),” terangnya.
Hartadi mengatakan, dari komplain itulah kejahatan tersangka mulai terbongkar. Tersangka pun mengakui semua perbuatannya. Praktik tersebut dia lakukan sejak 2013 sampai 2015. Uang yang diambil sebesar Rp 2,1 miliar. ”Dari kerugian tersebut akhirnya tersangka mengangsur dan masih kurang Rp 1,397 miliar,” katanya.

Saat ini, Kejati Jateng masih menetapkan satu tersangka. Pihaknya belum berani memastikan apakah ada tersangka lain. Penahanan tersangka dilakukan karena pihaknya khawatir yang bersangkutan akan melarikan diri. ”Selain itu, dikhawatirkan akan merusak atau menghilangkan alat bukti atau mengulangi tindak pidana tersebut,” ujarnya.

Tersangka Dominico akan dijerat pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20/2001 tentang tindak pidana korupsi. Subsider pasal 3 UU yang sama dan pasal 8 KUHP.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, usai pemeriksaan tersangka Dominico langsung diangkut mobil tahanan Kejati Jateng berpelat nomor merah H 9527 VR. Tersangka memakai baju biru lengan panjang dan rapi lengkap dengan sepatu pantofel. Ia dikawal 2 petugas kejaksaan memakai rompi penyidik Kejati Jateng. (bj/zal/ce1)