SEMARANG – Dampak pelemahan rupiah pada transaksi saham, dinilai tidak terlalu signifikan. Sebab, meski sejak awal tahun hingga kini rupiah melemah sekitar 5- 6 persen, namun transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) malah menguat sekitar 4 persen.

“Pengaruhnya hanya sedikit terasa, khususnya pada emiten yang utang dolarnya besar dan yang menggunakan bahan baku impor,” ujar Branch Manager Valbury Asia Securities Semarang Lenny Gunarso.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena investor asing masih banyak masuk sampai sekarang. Meski ada investor yang mulai keluar, saat ini dana asing yang masuk di bursa saham masih sekitar Rp 5,5 triliun, dengan dominasi sekitar 60 persen pada total investasi di BEI. “Masih besarnya dana asing tersebut karena sejak awal tahun investor asing optimistis pada perekonomian Indonesia yang memiliki target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Juga karena gejolak pelemahan rupiah yang tembus di Rp 13 ribuan per USD baru maret ini,” paparnya.

Sementara itu saham yang harus diwaspadai investor dalam transaksi yaitu: emiten yang utang dolarnya banyak seperti serta emiten yang bahan baku impornya banyak. Adapun saham-saham yang potensial yaitu tekstil, konstruksi, kawasan industri dan perbankan. “Adapun untuk saham komoditas seperti CPO dan batubara seharusnya diuntungkan dengan melemahnya rupiah. Tetapi karena harga komoditas dunia tengah turun, justru kurang signifikan,” tambah Lenny.

Sementara itu awal tahun ini secara umum kondisi pasar saham masih sepi, karena belum ada sentimen menarik. Meski indeks Down John naik, tetapi secara umum market tidak ramai dan transaksi saham agak berkurang dari tahun lalu. Valburi Asia Securitas cabang Semarang sendiri awal tahun ini mengalami penurunan transaksi sekitar 20 persen.

Namun penurunan tersebut bukan disebabkan oleh melemahnya rupiah, melainkan lebih karena adanya kebijakan awal tahun seperti diturunkannya jumlah saham per 1 lot yang semula 500 lembar diturunkan menjadi 100 lembar. “Kebijakan tersebut menurunkan minat investor ritel yang biasa main trading, karena keuntungannya kecil. Sehingga, kini transaksi lebih dominasi fun manager yang gede-gede,” tandasnya. (dna/smu)