Dulu Tukang Sapu dan Penjaga Malam Pengadilan

610
BERKARIR DARI NOL: Panitera Sekretaris PN Kendal, Soedi Wibowo di ruang kerjanya kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS-RADAR SEMARANG)
BERKARIR DARI NOL: Panitera Sekretaris PN Kendal, Soedi Wibowo di ruang kerjanya kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS-RADAR SEMARANG)
BERKARIR DARI NOL: Panitera Sekretaris PN Kendal, Soedi Wibowo di ruang kerjanya kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS-RADAR SEMARANG)

Semangat hidup Soedi Wibowo patut dicontoh. Ayah empat anak ini mengawali karir dari tukang sapu dan penjaga malam pengadilan sebelum akhirnya menjabat sebagai Panitera Sekretaris (Pansek) di Pengadilan Negeri (PN) Kendal. Seperti apa kisahnya?

BUDI SETYAWAN, Kendal

DI lantai II kantor PN Kendal, Soedi Wibowo tampak sibuk di ruang kerjanya. Ia mencermati satu demi satu berkas perkara yang tertata rapi di mejanya. Sesekali ia keluar ruangan untuk mengecek karyawan dan melihat suasana PN Kendal. Begitulah aktivitas sehari-hari Soedi –begitu pria kelahiran Surabaya, 26 November 1960 ini—biasa disapa.

Sebelum dipercaya menjabat Panitera Sekretaris PN Kendal, Soedi memulai karir dari nol. Ia bercerita, awalnya bekerja sebagai tukang sapu di PN Surabaya. Saat itu, ia meneruskan pekerjaan ayahnya, almarhum Ridwan, dan ibunya, Pati, yang juga bekerja sebagai tukang sapu dan jaga malam di PN Surabaya.

”Jadi, sejak kecil saya hidup di pengadilan. Saya harus membantu ayah saya membersihkan pengadilan. Mulai membantu menyapu, mengepel, menyiapkan minuman bagi pegawai dan pekerjaan dapur lainnya,” kenang Soedi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Suami dari Wiwik Sulam ini mengaku, tidak pernah menyangka jika dirinya harus meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai tukang sapu dan jaga malam di pengadilan. Baru pada sekitar 1976, kakek lima cucu ini diangkat menjadi tenaga honorer pengadilan. Tugasnya persis seperti yang dikerjakan ayahnya, yakni bersih-bersih sebelum jam dinas sampai selesai jam kantor, dan menjaga keamanan saat malam hari.

Meski jadi tukang sapu, ia tak pernah merasa malu atau gengsi. Justru sebaliknya, ia meneruskan pekerjaan sang ayah dengan rasa senang dan bangga. Yang menarik, meski sibuk, ia tetap menyempatkan diri untuk belajar.

”Jadi sore hari saya sekolah, karena saat itu ada kelas sore hari. Saat itu saya tidak punya pikiran mau jadi apa, yang penting saya sekolah, belajar, dan memenuhi tugas saya bekerja sebagai tukang sapu dan jaga malam,” katanya.

Sampai suatu hari Soedi berpikir apakah anak cucunya akan mengalami nasib yang sama menjadi tukang sapu pengadilan seperti dirinya. Bagaimana nantinya cara ia menyekolahkan dan mewujudkan cita-cita anaknya. ”Sementara saat itu, gaji saya sebagai tukang sapu dan jaga malam honorer hanya Rp 1.250 saja,” kenangnya.

Soedi mulai berpikir tentang cara mengubah nasib agar bisa menjadi lebih baik. Salah satu yang dia lakoni adalah melanjutkan pendidikan di SMA Nusantara Surabaya. Meski kerja pagi, siang dan malam, ia merasa pelajaran sekolah tak terganggu sampai lulus sekolah. Tepatnya, sekitar awal 1982, Soedi mengikuti tes CPNS, dan langsung diterima sebagai PNS golongan IB. Kerjanya juga sama, menjadi satpam yang merangkap tukang sapu pengadilan. Setelah lulus SMA, ia mengikuti penyesuaian PNS dan meningkat golongannya menjadi IIA.

Soedi melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Merdeka Surabaya. Gaji yang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan membuat kuliahnya tak berjalan mulus. Dia lebih sering menunggak biaya kuliah daripada membayar tepat waktu. Selepas kuliah, dia diminta mengajukan permohonan untuk menjadi CPNS. Pengalaman kerja sebagai tenaga honorer menambah daya tawar dia untuk bisa diangkat menjadi PNS. Permohonan itu diterima, Soedi masuk daftar yang lolos PNS golongan IIIA.

”Waktu itu ya sudah tidak nyapu lagi. Saya sudah kerja di bagian staf administrasi pengadilan di bagian umum,” katanya sambil tersenyum.

Awal 2010, dia diangkat menjadi panitera muda pidana, yang membawahi sekitar 20 panitera di PN Surabaya. ”Kemudian saya diangkat lagi menjadi Wakil Panitera (Wapan) dan pada 27 Februari 2015 lalu saya mendapatkan surat pengangkatan menjadi Panitera Sekretaris (Pansek) di PN Kendal,” tambahnya.

Perlahan kesejahteraannya meningkat, dari hanya menumpang di halaman pengadilan menjadi menempati rumah sendiri. Ia mampu menguliahkan keempat anaknya. Bahkan tiga di antaranya kini sudah berstatus PNS.

”Satu anak saya ada yang sudah jadi hakim di PN Jeniponto Sulawesi Selatan, dan dua PNS di PN Surabaya. Tinggal seorang lagi yang saat ini masih duduk di bangku kuliah,” katanya bangga.

Soedi mengatakan, jabatan itu tak pernah diimpikannya. Baginya saat itu ia ingin mengubah nasib keluarganya dengan bekerja ikhlas dan senang hati. ”Yang penting saya berusaha dan ikhlas. Semua pekerjaan kalau dijalani dengan senang hati tidak ada yang sulit dan tidak ada kata malas,” ujar Soedi yang kini tengah menempuh pendidikan doktor ini.

Di tempat barunya, tak segan Soedi masih menyapu lingkungan PN Kendal. Ia membiasakan berangkat pagi-pagi, lalu ikut bersih-bersih. ”Kita tidak hanya pintar memerintah, tapi harus memberi contoh juga,” kata pria berkacamata ini.

Tak heran, jika lingkungan PN Kendal kini tampak bersih dan asri. Selain itu, Soedi juga menerapkan teknologi informasi di tempat kerjanya. Di antaranya SMS Gateway. Dengan fasilitas SMS Gateway ini, masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai jalannya perkara di PN Kendal. Mulai dari hakim yang menangani, panitera sampai putusan perkara.

Pihaknya juga membuat sistem aplikasi surat-menyurat. Sistem untuk memantau surat keluar masuk di PN Kendal dan memberikan kepastian penuntasan jawaban kepada si pengirim surat. ”Jadi surat yang masuk di PN Kendal bisa cepat ditangani. Maksimal tujuh hari pasti sudah ditangani,” tandasnya. (*/aro/ce1)