Diiringi Tangis, Siswa Ujian di Balai Desa

198
TETAP UJIAN : Para siswa-siswi MTs At Thohiriyah akhirnya bisa melakukan ujian madrasah di Balai Desa Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, pada Senin (6/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP UJIAN : Para siswa-siswi MTs At Thohiriyah akhirnya bisa melakukan ujian madrasah di Balai Desa Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, pada Senin (6/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP UJIAN : Para siswa-siswi MTs At Thohiriyah akhirnya bisa melakukan ujian madrasah di Balai Desa Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, pada Senin (6/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKAWAL APARAT : Aparat Polsek Buaran dan Koramil Buaran melakukan evakuasi siswa kelas 9 MTs At Thohiriyah ke Balai Desa Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, pada Senin (6/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKAWAL APARAT : Aparat Polsek Buaran dan Koramil Buaran melakukan evakuasi siswa kelas 9 MTs At Thohiriyah ke Balai Desa Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, pada Senin (6/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Isak tangis mewarnai pelaksanaan Ujian Madrasah (UM) di MTs At Thohiriyah di Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, pada Senin (6/4) kemarin. Menyusul adanya kasus sewa menyewa lahan sekolah yang diputus oleh pemilik lahannya.

Keributan tersebut bermula saat 34 wali siswa kelas 9 MTs At Thohiriyah protes ke pengurus Yayasan Salafiyah Abunawar yang menaungi sekolah tersebut. Wali murid mendatangi kantor yayasan sekaligus gedung Madrasah Aliyah (MA) At Thohiriyah di Watusalam Kabupaten Pekalongan dengan didampingi anggota Polsek Buaran dan Koramil Buaran. Mereka keberatan UM dilaksanakan di lokasi baru di gedung MA tersebut. Para wali murid meminta pelaksanaan UM anak-anaknya pada hari tersebut tetap digelar di sekolah lama di MTs At Thohiriyah di Simbang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan.

Menanggapi protes para wali murid tersebut, akhirnya dilakukan mediasi dengan Ketua Pengurus Yayasan, M Ilyas Yusuf. Mediasi tersebut dipimpin oleh Kepala Kelompok Kerja Masrasah (KKM) MTs Kabupaten Pekalongan, Urip Sudino. Namun dalam kesempatan tersebut, Yusuf menegaskan bahwa pihaknya akan menggelar UM di tempat lain, jika ada rekomendasi dari Kemenag Kabupaten Pekalongan.

“Kami akan melaksanakan UM di tempat lain, jika ada surat rekomendasi. Saya butuh SK Kemenag dengan catatan tertulis jelas Ujian Madrasah digelar di rumah pribadi Tohirin,” tegas Yusuf dalam mediasi.

Namun saat dihubungi oleh Urip Sudino, Kepala Kemenag tidak mengizinkan dan menolak memberikan rekomendasi. Sehingga mediasi deadlock, meski waktu semakin siang dan ke 34 siswa harus segera ujian.

Diungkapkan Yusuf, pemindahan lokasi ujian, karena pemilik lahan tempat MTs berdiri bernama M Thohir membatalkan surat sewa menyewa. Akibatnya, pengurus yayasan memindah lokasi ujian di lokasi baru atau kantor yayasan baru dan gedung MA. ”Kami melakukan ujian disini, karena pemilik tanah di MTs membatalkan sewa, sehingga kini jadi tanah pribadi, bukan sekolah lagi,” ucap Yusuf.

Menurut Yusuf, pihaknya juga sudah menyiapkan semua perlengkapan mulai dari bangku, nomor dan kelengkapan lainnya. “Namun saya kaget, saat pukul 08.00 pagi, saat ujian segera digelar. Yang datang bukannya siswa, tapi wali murid dan anggota polisi. Saya juga tidak tahu, kenapa siswa menolak. Padahal sebelumnya sudah menggelar Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN). Padahal dua orang siswa sudah mau ikut ujian disini,” tandas Yusuf.

Salah satu wali siswa, Slamet,40, asal Kertoharjo Kota Pekalongan mengungkapkan bahwa anaknya selama ini sudah nyaman sekolah selama 3 tahun di Simbang Wetan. “Suasananya nyaman dan siswanya senang. Tapi dipaksa oleh pengurus Yayasan untuk ujian di MA sini, anak saya dan teman-temannya menolak,” ucapnya.

Bahkan menurut Slamet, anaknya dipaksa untuk tetap ujian di tempat baru, sampai disuruh membuat pernyataan tertulis bermaterai, kalau mau ujian di MA ini. Jika tidak, maka yayasan tidak akan meluluskan dan tidak memberikan ijazah. Akhirnya terpaksa mau dan sempat ujian tiga hari Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN). Namun akhirnya siswa kembali menolak ujian madrasah karena tidak nyaman. “Kami tidak peduli masalah di yayasan, sewa menyewa atau apa. Yang penting anak kami bisa ujian,” tegas Slamet.

Bahkan, mediasi yang berjalan alot hingga siang hari, membuat beberapa wali siswa semakin bingung. Pengurus yayasan tetap bersikeras dengan keputusannya menggelar ujian di lokasi MA tersebut.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dikumpulkan wartawan koran ini di lapangan, permasalahn tersebut muncul lantaran adanya konflik pengurus yayasan dengan M Thohir selaku pemilik lahan sekolah sebelumnya. Dari keterangan pengurus Yayasan Salafiyah Abunawar, seharusnya tanah disewa selama 10 tahun. Perjanjian dilakukan sejak 2011, namun pada 12 Maret 2015 perjanjian dibatalkan secara sepihak oleh M Thohir.

Saat dimintai keterangan, M Thohir menjelaskan ada beberapa hal yang membuat dirinya memutuskan kontrak dengan yayasan secara sepihak. “Saya memang memutuskan sepihak sewa tanah di lokasi MTs. Ada banyak hal. Mulai yayasan yang tidak ada itikad baik untuk memakmurkan sekolah ini. Yayasan selama ini belum pernah membayar sewa lokasi sekolah. Bahkan, saya sebelumnya diberhentikan dengan tidak hormat sebagai kepala sekolah. Dan selama menjabat sebagai kepala sekolah di MTs At Thohiriyah, saya juga belum pernah digaji sampai sekarang,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, imbuhnya, yang membuat keluarganya menyesal adalah pihak yayasan melakukan somasi untuk keluarga M Thohir agar meninggalkan tempat tinggal sekaligus lokasi MTs yang masih menjadi tanah pribadi dengan alasan akan digunakan untuk yayasan.

Kapolsek Buaran AKP Agus Riyanto yang datang ke lokasi langsung mengambil sikap tegas dengan tetap mengelar ujian bagi siswa MTs At Thohiriyah. “Pada kasus ini banyak kepentingan di dalamnya. Tapi kami tidak mengerti sejauh itu. Intinya kami akan bantu, bagaimana caranya agar bisa ujian segera,” tegas dia.

Akhirnya, dengan kesepakatan semua pihak, ujian dilaksanakan di aula Balai Desa Simbang Wetan pada hari itu juga. Ke-34 siswa yang sejak pagi masih menunggu di lokasi MTs lama, di Simbang Wetan akhirnya dievakuasi polisi ke kantor kelurahan. Diiringi tangisan belasan siswi yang kalut dan takut, akhirnya bisa sampai ke lokasi ujian dengan dikawal Polsek Buaran dan angota Koramil Buaran.

Kepala Desa Simbang Wetan, Khaerudin saat dimintai keterangan membenarkan bahwa selama ini Kiai Thohir menjadi pengelola. Sedangkan Yusuf cs adalah pengurus yayasan. Juga membenarkan adanya laporan dari wali siswa, mereka di intimidasi oleh Yusuf dan Toyibin pengurus yayasan. Sehingga siswa semakin takut dan sungkan jika ujian digelar di lokasi yayasan baru. “Kami harap, persoalan ini bisa segera selesai. Karena sebenarnya, mereka masih saudara kandung atau adik kakak. Namun kami cukup kecewa dengan sikap pengurus yang seperti itu,” bebernya. (*/han/ida)