UNGARAN – Petugas Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Semarang terus mendalami kasus tewasnya empat orang usai pesta minuman beralkohol atau minuman keras (Miras) di rumah kos di kawasan Langensari, Ungaran. Sembari menunggu hasil uji laboratorium tentang kandungan minuman jenis Redlabel dan Blacklabel serta menunggu hasil otopsi untuk mengetahui penyebab kematian para korban.

Sebelumnya diduga miras palsu atau miras isi ulang dengan campuran bahan kimia yang mematikan. Selain itu polisi juga menduga empat orang yang tewas itu mengoplos miras dengan bahan lainnya. Dugaan itu semakin kuat karena tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP) polisi menemukan beberapa bungkus obat daftar G. Polisi menilai, jika miras yang bermasalah kenapa korbannya hanya ada 4 orang. Padahal miras sudah diedarkan oleh Joko Waluyo alias Jack yang turut tewas dalam pesta miras di kos-kosannya itu.

“Ada temuan baru yakni beberapa bungkus obat daftar G tidak jauh dari TKP yakni di depan kos dan tanah kosong samping kos. Logikanya yang minum miras orang banyak dan habis belasan botol. Tetapi yang meninggal hanya empat orang. Ada dugaan keterkaitan obat daftar G tersebut, ini menjadi bukti baru dan akan kita dalami,” kata Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Herman Sophian, Minggu (5/4) kemarin.

Ia mengaku kesulitan melacak distribusi miras bermerek Red Label dan Black Label palsu tersebut. Sebab saksi kunci peredaran miras merupakan korban yang tewas yakni Joko Waluyo alias Jack, 31, warga Jalan Palang Merah IV Nomor 99 RT 5 RW XII Perumahan Nitibuana Ungaran Timur. Jack sudah terkenal sebagai penjual ciu dan miras oplosan di sekitar Pasar Babadan. Kendati demikian polisi terus melacak peredaran miras tersebut. “Kami masih mencari siapa yang ikut dalam pesta itu untuk menguak peredaran miras ini,” imbuhnya.

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, dr. Ngakan Putu mengatakan, kandungan minuman keras yang paling berbahaya adalah alkoholnya. Apalagi jika memiliki kandungan alkohol hingga lebih dari 15 persen. Akan lebih berbahaya lagi, jika miras tersebut dioplos dengan bahan lainnya maka akan mempercepat kematian bagi yang mengkonsumsinya. “Alkohol 15 persen sudah berbahaya, karena satu sel terkena alcohol 15 persen saja bisa mati. Apalagi sekelas blacklabel dan redlabel yang alkoholnya mencapai 40 persen. Belum lagi jika ada campuran bahan lainnya, itu akan mempercepat kematian seseorang,” katanya.

Seperti diberitakan Radar Semarang, pesta miras jenis Redlabel dan Blacklabel di rumah kos milik Arief Sukirman, di Jalan Kertanegara 14 C, Lingkungan Langensari Barat RT 2 RW 4, Kelurahan Langensari, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, sejak Sabtu (25/3) hingga Minggu (26/3) memakan korban.

Empat orang tewas setelah menenggak miras yakni Al Fattah, 34, warga Kebon Andong RT 1 RW 12, Kelurahan Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Joko Waluyo alias Jack, 51, warga Jl Palang Merah, Perum Nitibuana Kelurahan Beji, Ungaran Timur, Ahmad Feriyanto, 22, warga Desa Keji, RT 4 RW 5, Ungaran Barat, dan Aminah, 25, warga Desa Sitiluhur, Gembong, Pati. Dari lokasi kejadian petugas Polres Semarang menyita 19 botol minuman beralkhol dan 9 botol yang sudah kosong serta satu kaleng susu Beruang. (tyo/fth)