Semarang Utara Tertinggi HIV/AIDS

201

SEMARANG UTARA – Persebaran penyakit HIV/AIDS di Kecamatan Semarang Utara kian mengkhawatirkan. Hal itu ditunjukkan dengan tingginya angka penderita penyakit di wilayah tersebut yang mencapai 64 kasus. Bahkan menduduki peringkat teratas dari 16 kecamatan di Kota Semarang.

Penyebab tingginya angka penderita hingga kini masih belum bisa dipastikan. Berbagai pihak hanya sebatas menduga-duga penyebab dadi tingginya angka penderita HIV/AIDS. Berdasarkan data yang diperoleh dari KPA (Komisi Penanggulangan Aids) Kota Semarang, mulai dari tahun 2011 hingga 2014 jumlah penderita HIV/AIDS masih diduduki Kecamatan Semarang Utara.

“Kecamatan Utara sebanyak 64 kasus. Peringkat ke dua di duduki oleh Kecamatan Semarang Barat dengan 58 kasus HIV/AIDS. Tertinggi ke tiga dipegang Kecamatan Semarang Timur dengan 49 Kasus HIV/AIDS,” ujar Ketua KPA, Bambang Sukarjo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (5/4).

Sementara itu, secara komulatif kasus HIV/AIDS berdasarkan jenis pekerjaan yaitu Supir sebesar 3 persen, karyawan sebesar 19 persen, tukang parkir sebesar 1 persen, PNS sebesar 2 persen, TNI dan Polri sebesar 1 persen, profesional non medis sebesar 1 persen.

“Selain itu, pemulung sebesar 1 persen, PSK sebesar 1 persen, pelaut sebesar 1 persen, buruh sebesar 10 persen, pelajar dan mahasiswa sebesar 4 persen, Ibu Rumah Tangga sebesar 18 persen,” lanjut Bambang.

Hingga kini pihaknya masih melakukan penelitian sebab musabab berkembangnya penyakit mematikan tersebut. Beberapa kecamatan lain di Kota Semarang yang menduduki angka tertinggi dalam kasus HIV/AIDS yaitu Kecamatan Pedurungan dengan 48 kasus dan Kecamatan Tembalang dengan 45 kasus. “Namun memang sebagian besar warga yang terjangkit penyakit tersebut bukan asli penduduk Kota Semarang. Melainkan pendatang yang bekerja maupun bermukim sementara di Kota Semarang,” kata Bambang.

Sementara itu menurut Camat Semarang Utara, tingginya kasus penderita HIV/AIDS di wilayahnya, pihaknya menduga karena banyaknya tempat hiburan malam serta berdekatan dengan pelabuhan. Dimana diketahui, pelabuhan merupakan tempat transit warga dari kota, pulau, bahkan negara lain. “Kondisi mereka saat transit di pelabuhan kan tidak diketahui. Apakah mereka membawa penyakit tersebut atau tidak. Sementara itu, banyaknya hiburan malam seperti karaoke kami menduga diakibatkan itu. Sehingga penderita HIV/AIDS sangat tinggi,” katanya.

Terpisah, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi saat ditemui usai Sosialisasi bahaya HIV/AIDS dan Narkoba di Kelurahan Plombokan mengiyakan jika angka kasus HIV/AIDS di Kota Semarang sangatlah tinggi. Beberapa program telah dilakukan pihaknya guna menekan angka pesebaran kasus penyakit mematikan tersebut. “Selain itu beberapa program tengah kita jalankan antara lain guna menekan angka persebaran DBD ada pemberantasan sarang nyamuk setiap hari jumat. Untuk menekan angka kematian pada Ibu hamil kita terus berupaya memberikan sosialisasi kepada mereka seputan kehamilan. Untuk HIV/AIDS kita terus melakukan pengecekan kesehatan ditempat-tempat yang berpotensi tinggi persebarannya,” kata Hendi.

Selain itu beberapa program lain seperti Komunikasi Perbahan Prilaku (KPP), penggunaan kondom 100 persen, klinik VCT dan program pengobatan juga telah dilakukan. Selain kasus HIV/AIDS, pihaknya juga prihatin dengan tingginya kasus kematian pada ibu hamil yang mencapai 30 persen. Padahal di Kota Semarang sendiri memiliki banyak Rumah Sakit, namun angka kematian pada ibu hamil hingga kini masih tinggi. “Karena ibu hamil dan lingkungan hanya cuwek dengan kondisi itu. Semarang memiliki jumlah RS yang paling banyak se Jateng. Jumlah dokter juga paling banyak se Jateng. Oleh sebab itu, kesadaran ibu hamil dan lingkungannnya harus di tingkatkan,” katanya. (ewb/zal)