Hewan Bunting Ikut Dibangunkan Agar Lahir Selamat

329
TRADISI: Warga Desa Keblukan Kecamatan Kaloran menyantap nasi gurih dari Priyaningsih yang sedang hamil di saat gerhana bulan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
TRADISI: Warga Desa Keblukan Kecamatan Kaloran menyantap nasi gurih dari Priyaningsih yang sedang hamil di saat gerhana bulan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
TRADISI: Warga Desa Keblukan Kecamatan Kaloran menyantap nasi gurih dari Priyaningsih yang sedang hamil di saat gerhana bulan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)


Hujan lebat mengguyur Desa Keblukan, Kecamatan Kaloran Sabtu (4/4) malam. Namun hal ini tidak membuat warga desa mengurungkan niat untuk melaksanakan sebuah tradisi.

Setelah hujan mereda, puluhan warga berkumpul. Kesibukan terjadi di sana-sini. Sebuah momentum spesial digelar secara mendadak.

Ritual Pamongan sengaja digelar menyambut datangnya peristiwa alam, yakni gerhana bulan. Dengan memegang teguh tradisi leluhur, setiap perempuan yang tengah mengandung diwajibkan untuk menggelar prosesi ini.

Salah satunya Priyaningsih,25. Ia kini mengandung anak kedua dengan usia kehamilan menginjak 7,5 bulan. Secara khusus ia memasak berbagai makanan khas seperti nasi gurih, urap, kerupuk, dan telur.

Kemudian, tepat saat bulan purnama, makanan tersebut dituang ke pelepah daun pisang untuk kemudian dimakan bersama-sama dengan warga sekitar. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka adat setempat.

“Adat ini selalu ada bagi ibu hamil, tujuannya adalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar anak yang ada dalam kandungan saya, tidak ada yang berani mengganggu. Sehingga dapat terlahir secara normal,” akunya.

Sementara itu, Nani Naimah, 38, pemuka adat desa ini menjelaskan bahwa Pamongan sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan merupakan peninggalan para leluhur yang wajib terus dilestarikan. Tujuannya semata-mata adalah meminta keselamatan saat nantinya perempuan yang kini tengah hamil dapat melahirkan secara normal dan terhindar dari berbagai macam bentuk gangguan yang tidak kasat mata.

“Inti ritual ini adalah membangunkan bayi yang ada dalam kandungan, agar nanti saat lahiran dimudahkan. Kalau mitosnya dulu, gerhana bulan terjadi karena dimakan oleh buto ijo, lha mitos ini yang masih kami percayai hingga kini,” bebernya.

Uniknya, hewan-hewan yang tengah bunting, seperti kambing, sapi, dan kerbau pun, juga turut dibangunkan. Mereka percaya, baik manusia maupun hewan yang tengah bunting ini tak dibangunkan saat gerhana bulan datang, maka dikhawatirkan anaknya akan terlahir cacat.

“Setelah menggelar doa bersama dan selamatan Pamongan, warga langsung melanjutkannya dengan menunaikan salat gerhana,” imbuhnya.

Sayang, fenomena gerhana bulan merah darah ini tidak dapat disaksikan secara langsung oleh warga setempat lantaran kabut dan mendung yang tampaknya enggan bergeser. (mg3/ton)