Ketagihan Mendaki Gunung

176
Mulatifah. (Faiz urhanul hilal/jawa pos radar semarang)
Mulatifah. (Faiz urhanul hilal/jawa pos radar semarang)
Mulatifah. (Faiz urhanul hilal/jawa pos radar semarang)

Mendaki gunung telah menjadi kegilaan bagi Mulatifah sejak beberapa tahun lalu. Dengan mendaki, dara kelahiran Pekalongan 14 Desember 1996 itu mengaku semakin terpupuk rasa cintanya kepada Indonesia.

Meski memiliki banyak hobi seperti fotografi, bermusik dan menari, gadis cantik yang akrab disapa Tifa itu mengaku mendaki gunung merupakan hal tak tergantikan. “Aku dulu ngeband, menari, nyanyi juga. Tapi naik gunung itu tidak tergantikan,” ungkap mahasiswi semester II STAIN Pekalongan itu.

Gadis berhijab yang kini memilih tinggal di pesantren itu memaparkan, setiap kali mendaki, perjalanan menuju puncak gunung selalu terasa baru. Baik dari pengalaman pendakian, kehangatan sesama pendaki hingga kesadaran tentang alam yang menunjukkan kebesaran sang maha pencipta.

“Pikiran penat menjadi plong, jalanan terjal, berliku, pohon-pohon, burung, pemandangan alam. Saya merasa kecil tak berdaya dibandingkan dengan anugerah Allah yang tak terhingga,” ungkapnya.

Dari sederet pengalamannya mendaki, hal yang selalu membuatnya mengukur diri adalah orang tua. Tifa mengungkapkan, setiap kali mencapai puncak, air matanya selalu mengalir. “Aku selalu teringat bapak sama ibu. Teringat kenakalanku, kalau aku banyak salah sama mereka. Biasanya memang menangis,” katanya.

Namun hal besar yang selalu muncul ketika mendaki adalah kecintaannya terhadap alam Indonesia. Maka dari itu, Tifa enggan menggunakan sepeda motor untuk berangkat kuliah. Dia lebih memilih menggunakan sepeda onthel. “Sepeda onthel kan tidak menimbulkan polusi yang bisa merusak alam. Selain itu juga bisa olah raga, jadi sehat,” timpalnya. “Pokoknya naik gunung itu membuat semakin cinta sama alam Indonesia dan bikin ketagihan,” imbuhnya. (hil/ric)