Polisi Amankan Dua Lokasi

133

BANYUMANIK – Sebanyak dua titik lokasi penambangan liar atau galian C yang nekat beroperasi di wilayah hukum Polda Jateng, kembali diamankan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng.

Dua lokasi tersebut masing-masing; di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Sungai Juweh Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Seorang pengelola bernama Bandi alias Monyong, 49, warga Boyolali, ditetapkan tersangka. Dua alat berat ekskavator dan catatan hasil produksi disita oleh penyidik.

Berikutnya praktik penambangan liar di Bukit Genuk, Kragilan, Mojosongo, Boyolali. Seorang pengelola bernama Subagyo, 53, warga Boyolali, ditetapkan tersangka dan disita 1 unit alat berat ekskavator. ”Kami tetapkan dua tersangka atas adanya kegiatan penambangan liar atau galian C yang dilakukan di dua lokasi terpisah,” kata Kasubdit Kanit 1 Subdit IV Tipiter, Kompol Sapuan, ditemui Jawa Pos Radar Semarang di ruang kerjanya di kantor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, Jalan Sukun Banyumanik, Semarang, Selasa (31/1).

Dijelaskan Sapuan, penindakan di Sungai Juweh Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali dilakukan pada Selasa 17 Maret 2015 lalu sekitar pukul 06.00. ”Mereka sedang melakukan aktivitas mempersiapkan pasir, akan dinaikkan ke truk. Mereka melakukan aktivitas sejak malam hari,” terangnya.

Berdasarkan pemeriksaan tersangka, aktivitas penambangan liar itu telah dilakukan sejak awal bulan Maret 2015. ”Namun mulai produksi 16 Maret 2015. Kegiatan awalnya mulai membuat akses jalan menuju lokasi di bantaran sungai,” katanya.

Praktik penambangan liar tersebut dikelola perseorangan, yakni tersangka Bandi. Pasir-pasir dari hasil penambangan tanpa izin ini telah beredar atau dijual. ”Dia melayani pembelian dari pengambil pasir yang rata-rata berasal dari luar daerah. Siapa saja yang datang membeli dilayani oleh tersangka,” terang Sapuan.

Sedangkan tersangka Subagyo dilakukan penindakan pada 16 Maret 2015. Dia melakukan praktik penambangan liar jenis pengurukan tanah. ”Dia beroperasi sejak Januari 2015 lalu,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan, tersangka Subagyo mengaku mengelola tanah tersebut karena diserahi lahan milik warga. ”Tidak memiliki izin. Galian C tidak boleh beroperasi tanpa dilengkapi izin produksi. Yang berhak mengeluarkan izin dari Dinas ESDM Provinsi Jateng,” terang Sapuan.

Akibat aktivitas penambangan tanpa izin yang dilakukan para tersangka, mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan yang dapat membahayakan masyarakat. ”Kerugian secara riil bisa memicu terjadinya tanah longsor dan lain-lain,” imbuhnya.

Selain itu, tindakan tersebut juga merugikan negara. Sebab, semestinya negara mendapatkan pemasukan dari hasil kegiatan tambang. ”Tapi karena tersangka melakukan kegiatan secara ilegal, maka ini merugikan negara,” tandasnya.

Para tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Pasal 158 tentang pertambangan mineral dan batu bara (minerba) dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara. Namun kedua tersangka tidak dilakukan penahanan. ”Mereka kooperatif, sehingga tidak kami lakukan penahanan,” pungkasnya. (amu/zal/ce1)