Kimpul, Pohong dan Uwi, Bikin Kepo

165
CICIPI NASI KIPOW : Para dewan juri terlihat mengambil nasi kipow (berbentuk segi tiga) dalam perlombaan cipta menu panganan lokal. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
CICIPI NASI KIPOW : Para dewan juri terlihat mengambil nasi kipow (berbentuk segi tiga) dalam perlombaan cipta menu panganan lokal. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
CICIPI NASI KIPOW : Para dewan juri terlihat mengambil nasi kipow (berbentuk segi tiga) dalam perlombaan cipta menu panganan lokal. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

Memadukan makanan berkarbohidrat menjadi makanan yang unik dan bermanfaat berupa Nasi Kipow, menjadi modal para perempuan kreatif dari tim Pokja III PKK Kecamatan Lebakbarang. Hingga meraih Juara I Lomba Cipta Menu Pangan Lokal Kabupaten Pekalongan 2015. Seperti apa?

FAIZ URHANUL HILAL

SEJAK awal Maret 2015, tim Pokja III PKK Kecamatan Lebakbarang telah membuat inovasi hingga lahirlah Nasi Kipow yang merupakan perpaduan bahan makanan berupa Kimpul, Pohong (ketela pohon) dan Uwi.

Sekretaris PKK Lebakbarang, Reni Indriyani mengungkapkan bahwa sebenarnya nama Kipow merupakan pelesetan dari ungkapan kepo. Yakni bahasa gaul yang sedang hangat di kalangan manyarakat. “Kipow itu singkatan, Kimpul, Pohong dan Uwi. Seperti ungkapan kepo, apa sih pengin tahu banget. Kan itu sedang hangat di masyarakat,” kata Reni sembari tertawa.

Ibu dua anak ini memaparkan bahwa lebih banyak variasi bahan pangan, berpeluang mendapatkan nilai tinggi dalam perlombaan. Hal itulah yang mendorong timnya memunculkan ide membuat Nasi Kipow.

Meski terkesan sederhana dengan menghaluskan tiga bahan makanan (Kimpul, Pohong, dan Uwi), namun proses pembuatannya membutuhkan kecermatan. Jika tidak, maka dapat berakibat fatal. “Bahan-bahan yang tersedia semula dikupas seperti biasa. Tapi untuk bahan Kimpul, mengupasnya harus benar-benar bersih. Kalau tidak, rasanya bisa gatal karena ada getahnya,” jelasnya.

Setelah kulit dihilangkan, tiga bahan tersebut direbus sebelum ditumbuk halus. Tersusun dari tiga bahan makanan, penampilan Nasi Kipow tersebut juga dibentuk menjadi segi tiga. Dengan bidang bagian luar berupa Pohong, kemudian Uwi dan Kimpul. “Bentuknya segitiga, putih-kuning-putih. Pohong-Uwi-Kimpul,” bebernya.

Dengan waktu pembuatan sekitar satu jam, bisa menghasilkan Nasi Kipow untuk 10 porsi. Perpaduan tiga rasa itulah yang telah meneror perhatian dewan juri hingga nasi aneh tersebut keluar sebagai juara. “Gizinya jelas, kandungan karbohidrat untuk tenaga dan cita rasa asli tiga bahan makanan itu tetap terjaga,” kata Reni.

Perempuan yang suka dipanggil mbak agar terkesan muda ini menambahkan bahwa kendala pembuatan Nasi Kipow terletak pada kelangkaan bahan makanan Uwi. “Kendalanya itu pada bahan Uwi, karena adanya itu musiman. Alhamdulillah, kemarin kami bisa dapat Uwi sekitar 200 gram untuk perlombaan,” imbuhnya.

Camat Lebakbarang, Yuhanto menambahkan bahwa lomba cipta menu sendiri, merupakan kegiatan rutin yang digelar terutama untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI). “Dalam lomba tingkat kabupaten kemarin, kami menyerahkan kepada tim PKK Pokja III yang membidangi urusan pangan,” ujarnya.

Untuk mengembangkan kreativitas warga di bidang pangan, kata Yuhanto, tim Pokja III memiliki peran masing-masing. Mulai bahan makanan hingga mencermati nilai gizi. “Kami memfasilitasi segala hal, mulai dari kesiapan hingga pembiayaan,” jelasnya.

Ketika mengikuti Lomba Cipta Menu Pangan Lokal 2015, Nasi Kipow dipadukan dengan lauk ikan tongkol bakar saus kayu manis, sayur jantung pisang, dan tahu Indonesia Raya yang terbuat dari tahu dibungkus telur. Kelezatan serta kreativitas tim dari Lebakbarang mengolah pangan mendapatkan apresiasi dari para juri dengan nilai tertinggi daripada peserta lain. Yakni 296,12.

Sedangkan juara II diraih Kecamatan Buaran dengan nilai 291,13. Menyuguhkan menu andalan bestik ayam labu siam, siput mocaf dan tempe terasi. Sedangkan juara III, disambar Kecamatan Karanganyar dengan nilai 287,53. Disusul juara harapan I dari Kecamatan Kedungwuni, harapan II Kecamatan Wiradesa dan harapan III Kecamatan Kesesi.

Pihaknya berharap, kegiatan tersebut bisa menjadi motivasi untuk memicu kreativitas masyarakat dalam hal sumber makanan pengganti beras dan terigu. “Kalau Pohong, Uwi, Kimpul itu, biasanya untuk makanan sampingan dengan kegiatan lomba. Ini bisa membuka wawasan masyarakat untuk menggunakan bahan makanan karbohidrat selain beras dan terigu,” pungkasnya. (*/ida)