Blusukan di Kolong Jembatan

241
M. RIZAL KURNIAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
M. RIZAL KURNIAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
M. RIZAL KURNIAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

MENJADI seorang politikus merupakan pengalaman baru bagi Dewi Susilo Budiharjo. Keputusan wanita kelahiran Semarang 12 Mei 1970 ini terjun di dunia politik didasari atas keprihatinannya terhadap masyarakat kelas bawah yang selama ini masih terpinggirkan. Istri dari pengusaha diler mobil di wilayah Jateng-DI Jogjakarta ini pun ingin mengabdikan diri untuk kaum marjinal khususnya di Kota Semarang.

Bagi Dewi, mindset kaum marjinal harus diubah. Karakter building harus ditanamkan kepada diri mereka. Selama ini, leader dari Yayasan Berkat Bagi Bangsa ini memang sering melakukan kegiatan sosial membantu masyarakat miskin untuk keluar dari zona marjinal. Bahkan hasil usaha Dewi dari sebuah kafe 100 persen disumbangkan untuk kalangan tidak mampu.

Namun hal tersebut dirasa belum cukup, Dewi pun butuh ”tangan” yang lebih banyak lagi agar misinya segera terwujud. Salah satu caranya melalui tangan pemerintah. Hal itulah yang membuat Dewi memutuskan untuk terjun di dunia politik dan mendaftarkan diri sebagai bakal calon (balon) Wakil Wali Kota Semarang 2015 melalui partai PDIP.

”Dari hal seperti itu saya terpanggil untuk mengabdi kepada masyarakat. Berpijak dari situ saya memutuskan untuk terjun ke politik dan mendaftarkan diri sebagai bakal calon wakil wali kota. Karena saya sadar, dengan dua tangan kekuatan saya terbatas dan belum cukup kuat. Dengan bergabungnya saya ke politik (menjadi wawali) maka kekuatan menjadi lebih besar dan bisa mengentaskan kaum marjinal yang lebih luas,” kata ibu dari Natanael, 14, dan Natacha, 7, ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bagi Dewi, terjun di dunia politik bagai menerobos comfort zone yang selama ini dijalaninya. Banyak rintangan dan tantangan yang harus dilalui alumnus STIE STIKUBANK itu. Seperti menanggalkan image elite, branded dan wangi, yang selama ini melekat pada dirinya. Termasuk ketika meminta restu dari keluarganya.

”Memang sangat kontradiksi dengan kehidupan saya selama ini. Biasanya saya suka yang wangi-wangi, bersih, suka barang branded, tapi tiba-tiba harus blusukan ke kolong jembatan, pelacuran, dan hal lain yang selama ini belum pernah saya lakukan. Tapi dari situ semakin tahu dan membuat tekad saya semakin bulat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Paradigma dan mentallitas itu harus berubah dari marjinal. Istilahnya Pak Jokowi itu revolusi mental,” terang mantan model ini. Dewi Susilo Budiharjo adalah etnis Tionghoa pertama yang mendaftarkan diri sebagai bakal calon Wakil Wali Kota (balon wawali) Semarang. (zal/aro/ce1)