Bawang dan BBM Picu Inflasi

112

SEMARANG – Kenaikan harga bawang merah serta bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu, memicu terjadinya inflasi di Jawa Tengah pada bulan Maret. Inflasi mencapai 0,16 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 117,65.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Jam Jam Zamachsyari mengatakan, komoditas dengan kenaikan harga tertinggi adalah bawang merah. Kemudian BBM, meski kenaikan tidak sebesar komoditas lainnya, namun memberikan kontribusi cukup besar pada inflasi.

“Kenaikan dua jenis kebutuhan pokok ini memang belum lama terjadi tapi sudah memberikan pengaruh signifikan terhadap terjadinya inflasi. Hal ini karena dua jenis kebutuhan pokok tersebut banyak digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya, kemarin (1/4).

Selain bawang merah dan BBM, kenaikan harga beras beberapa bulan lalu akibat mundurnya waktu panen juga turut memicu inflasi. Berdasarkan data dari BPS Jateng, penurunan harga beras baru mulai terjadi pada minggu kedua bulan Maret.

Sebelumnya, pada minggu pertama bulan Maret rata-rata harga beras mencapai Rp 10.800 per kg, sedangkan pada minggu kedua turun menjadi Rp 10.600 per kg, dan di minggu keempat menjadi Rp 9.000 per kg. “April ini komoditas beras akan mengalami panen raya sehingga diharapkan bisa menahan laju inflasi di Jawa Tengah,” jelasnya.

Sementara itu, inflasi pada bulan Maret lalu lebih tinggi dibandingkan pada bulan Februari yang mengalami deflasi sebesar 0,62 persen dengan IHK sebesar 117,45. Untuk inflasi kali ini, dari enam kota survei biaya hidup (SBH) satu di antaranya mengalami deflasi yaitu Kota Kudus yaitu 0,02 persen.

Pada data tersebut, Kota Cilacap merupakan kota dengan nilai inflasi terendah untuk seluruh Indonesia yaitu 0,01 persen. Sedangkan khusus untuk Jateng, inflasi tertinggi terjadi di Kota Semarang yang mencapai 0,25 persen. (dna/smu)