NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMRANG
NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMRANG
NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMRANG

SEBAGAI presenter salah satu televisi swasta, Drasthya Estha Ghany dituntut selalu tampil oke. Bukan saja dari segi fashion. Proporsional bentuk tubuh pun terus diperhatikan. Jika bobotnya nambah, dia langsung cari-cari kesibukan untuk membakar lemak. Jalan-jalan di mal misalnya. Biar makin semangat, Tya –sapaan akrabnya– bermodus shopping agar kuat keliling pusat perbelanjaan sampai beberapa kali.

”Sebenarnya tidak melulu di mal. Kalau lagi mood, biasanya jalan-jalannya di kompleks perumahan dekat rumah,” ujar putri pertama dari tiga bersaudara pasangan Hendro Purwanton (alm) dan Dwi Roos Widyati ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengaku memang hobi jalan-jalan. Jadi, jangan heran jika Tya memilih tempat parkir yang agak jauh ketika pergi ke suatu tempat. Menurutnya, kemudahan transportasi bukan jadi alasan untuk memanjakan tubuh. Badan tetap harus membakar kalori agar metabolisme terus seimbang.

”Apalagi sekarang lifestyle kuliner mulai bergeser ke urban. Junkfood, gorengan, makanan berlemak, dan lain sebagainya sudah jadi konsumsi wajar. Kalau tidak diimbangi dengan olahraga, pasti bisa bikin gembrot,” paparnya.

Selain rajin jalan-jalan, dara kelahiran Semarang, 19 November 1993 ini juga getol mengonsumsi air putih. Ketika jajan, Tya sengaja tidak memasukkan menu-menu es, apalagi yang manis-manis, ke daftar pesanannya. Penyuka mi Jawa ini merasa lebih segar meneguk air putih yang tidak dingin untuk memuaskan dahaganya.

”Entah mengapa saya suka air putih yang tidak dingin. Rasanya lebih segar daripada es teh atau es-es lain. Kalau minum es, apalagi yang manis, tenggorokan justru merasa ada yang ngganjel,” papar mahasiswi semester akhir Jurusan Komunikasi FISIP Undip ini.

Kesehatan tenggorokan, bagi Tya cukup penting lantaran saban Sabtu-Minggu harus siaran di radio. Karena itu, untuk menjaga kerenyahan suaranya, dia rela menghindari menu-menu yang bisa mengganggu tenggorokannya. (amh/aro/ce1)