Pasukan Ansor dan Banser deklarasi bersama tolak ISIS di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pasukan Ansor dan Banser deklarasi bersama tolak ISIS di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pasukan Ansor dan Banser deklarasi bersama tolak ISIS di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Tiga warga Demak terindikasi masuk jaringan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Mereka adalah Kartono, 25, seorang PNS di sebuah puskesmas di Kabupaten Pawan, Kalimantan Barat (Kalbar) asli warga RT 2 RW 2, Desa Kedungori, Kecamatan Dempet. Polisi kali pertama mengetahui aktivitas Kartono pasca lebaran Idul Fitri lalu. Yang bersangkutan sempat pulang ke kampung halamannya dan diketahui membawa bendera mirip ISIS. Bendera itu dipasang didinding rumahnya dan diketahui orang tua Kartono Sukemi.

Saat ditanya, Kartono mengakui bendera itu titipan dari orang lain. Selain itu, polisi juga menemukan pemasangan lambang ISIS di kawasan PT DDST Sayung, Kecamatan Sayung. Belakangan diketahui, lambang itu dipasang Ikhwan alias Wawan, warga Desa Batu RT 3 RW 5, Kecamatan Karangtengah yang sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan di Malaysia. Selain itu, belum lama ini warga dihebohkan mencuatnya kabar tentang hilangnya Sri Lestari, warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak Kota. Mahasiswa Farmasi UMS Solo itu diduga bergabung ISIS di Suriah bersama suami sirinya.

Kapolres Demak, AKBP Raden Setijo Nugroho mengatakan, ada kesamaan dari ketiganya. Yaitu, adanya perubahan prilaku mengasingkan diri dari masyarakat luar, memisahkan dari kelompok sosial serta penampilan berubah drastis. Karena itu, warga diharapkan peduli dengan lingkungan sekitarnya. “Kalau ada kejanggalan silahkan laporkan ke polisi,”katanya, kemarin.

Ia menambahkan, kegiatan mereka yang radikal dinilai sudah diluar kaidah Islam. Saat ini, utamanya di wilayah Demak juga sudah banyak masyarakat yang menolak ISIS, termasuk dari GP Ansor dan Banser Nahdlatul Ulama (NU). Kemarin misalnya, ratusan anggota Ansor dan Banser melakukan aksi unjukrasa menolak ISIS. Aksi deklarasi penolakan ISIS yang berlangsung di Desa Pasir, Kecamatan Mijen ini dipimpin langsung Ketua GP Ansor Demak Dr Abdurrahman Kasdi dan Komandan Banser Mustain.

Abdurrahman menegaskan, bahwa Ansor dan Banser menolak ISIS. Penolakan yang dikemas dengan acara selapanan dan pra-apel ini diikuti oleh sekitar 500 anggota inti Ansor dan Banser. Hadir pula, KH Abu Mansur, Kasat Binmas Polres Budi MK dan beberapa jajaran Polres Demak lainnya. Disela-sela deklarasi, ratusan kader Ansor dan Banser ini meneriakkan yel-yel “Ansor Banser Tolak ISIS di Bumi Indonesia”, “Stop Terorisme, Stop ISIS”, “Aswaja Akidahku”, dan “NKRI Harga Mati.”

Abdurrahman menambahkan, ideologi ISIS bukan ideologi Islam. Pembunuhan terhadap sesama muslim dan non-muslim yang terjadi di Irak dan Syiria juga tidak dibenarkan. “Kami menghimbau pada semua jajaran Ansor dan Banser baik di Kabupaten, Kecamatan dan Desa untuk membentengi ajaran Islam yang Rahmatan lil Alamin dengan ideologi Aswaja dari rongrongan ISIS. Kami juga memohon kepada ormas Islam dan para ulama, untuk membentengi umat dari paham-paham ISIS,” katanya dalam deklarasi tolak ISIS.

Ia menambahkan, pra-apel ini akan dilaksanakan sebanyak 10 kali yang nantinya berganti lokasi. Sedangkan, puncak apel yang akan dilaksanakan pada 24 April 2015 bertepatan dengan Harlah Ansor yang ke-81 akan diikuti oleh 5000 kader Ansor dan Banser di alun-alun Demak.

Kapolres Demak melalui Kasat Binmas, Budi MK mendukung kegiatan menolak ISIS. Deklarasi ini dinilai sangat positif karena menunjukkan adanya kepedulian dari Ansor dan Banser. “Kami menyambut baik karena mendapatkan bantuan dan dukungan untuk mengantisipasi dan mengamankan dari ancaman atau gangguan paham ISIS di Demak,” katanya. (hib/fth)