(RADAR SEMARANG)
(RADAR SEMARANG)
(RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Mantan kepala pelaksana harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Sudiarso, terdakwa kasus dugaan korupsi logistik fiktif, mengaku tidak mengecek ulang kebenaran berkas pengadaan logistik. Hal itu diungkapkan Sudiarso saat menjadi saksi atas terdakwa Rudy Maryanto, dalam sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (30/3).

Dalam kesaksiannya, Sudiarso juga mengatakan jika semua rencana pengadaan bantuan logistik Kudus sudah disiapkan oleh Nur Kasiyan. ”Saya mohon maaf majelis, saya tidak tahu banyak karena saya baru menjabat. Setahu saya, yang mengurusi semua itu Nur Kasiyan. Dia sudah mempersiapkan berkas, dan saya tanda tangan,” kata Sudiarso, di hadapan ketua majelis hakim, Sulistyono.

Hakim Anggota, Antonius Wijantono, menanyakan bahwa sebagai Kalakhar, seharusnya mempunyai fungsi kontrol, tapi Sudiarso tidak melakukan itu. Antonius menganggap bahwa Sudiarso sudah mengetahui soal logistik fiktif itu sejak awal. ”Bagaimana Anda tahu, kalau rekanannya bernama Muslimin sementara dalam penandatanganan kontrak Anda tidak mengetahui adanya nama Muslimin. Kalau begini, berarti Anda tahu dong soal pengadaan ini sejak awal,” tanya Antonius kepada Sudiarso.

Sementara saksi lain, Muslimin menuding jika Nur Kasiyan lah yang mendalangi pengadaan logistik fiktif tersebut. ”Nur Kasiyan meminta uang kepadanya dengan alasan untuk kegiatan kantor. Saya waktu itu mau karena diyakinkan oleh Nur Kasiyan untuk mengganti uangnya,” ucapnya.

Muslimin menyebutkan jika dirinya diperintah oleh Nur Kasiyan agar pengiriman logistik tersebut dilakukan secara bertahap. ”Setelah berjalan, uang diminta Nur Kasiyan dengan tawaran penyelesaian laporan pengadaan,” katanya.

Saksi lain, Sugiyanto mengatakan, sebenarnya dirinya merasa keberatan dengan pengadaan tersebut. Dia juga sempat meminta Kalakhar menunjuk pejabat pengadaan lainnya. Namun, karena tidak ada yang lain akhirnya Sugiyanto yang menjadi pejabat pengadaan sesuai dengan sertifikasinya.

”Setelah semua deal, maka rekanan (Muslimin) meminta supaya dicek kesiapan barang dari penyedia jasa. Maka, saya, terdakwa Rudy, dan 3 orang lainnya dari BPBD datang ngecek di toko. Kami sifatnya di sana adalah melihat kesiapan rekanan, bukan pemeriksaan barang,” ujarnya. Setelah itu, Sugiyanto mengaku tidak mengetahui perkembangan pengadaan logistik tersebut. (mg21/zal/ce1)