ATBM KERTAS KORAN : Syamsul Huda menunjukkan kreativitasnya menenun limbah kertas koran dan kertas semen menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATBM KERTAS KORAN : Syamsul Huda menunjukkan kreativitasnya menenun limbah kertas koran dan kertas semen menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATBM KERTAS KORAN : Syamsul Huda menunjukkan kreativitasnya menenun limbah kertas koran dan kertas semen menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Banyak orang menganggap limbah kertas koran dan semen, tidak berguna. Namun di tangan Syamsul Huda, 46, warga Kelurahan Sugih Waras RT 04 RW 04, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, justru limbah itulah yang mengantarnya keliling dunia, termasuk ke Amerika Serikat dan Eropa Timur. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

GAGASAN dan inovasi menggunakan limbah kertas tidak muncul begitu saja. Sebagai seorang usahawan, Syamsul Huda terbilang tahan banting, banyak hal yang dialaminya.

Bermula pada tahun 2006, Syamsul mencoba memasarkan kerajinan tangan berupa hasil tenun, yang terbuat dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dengan bahan dari enceng gondok milik orang lain. Namun, setelah dipasarkan ke beberapa kota, seperti Jogjakara, Jakarta, Surabaya dan Medan, sambutan pasar sungguh luar biasa. Bahkan, banyak orang asing, khususnya dari Amerika dan Jerman, menyukai produk ATBM tersebut.

Hingga pada tahun 2009, terjadi booming kerajinan ATBM, khusus bahan yang terbuat dari akar wangi dan enceng gondok. Namun, saat booming justru dirinya semakin kesulitan mendapatkan bahan baku enceng gondok dan akar wangi. Selain itu, harga melambung tinggi, dengan kenaikan sampai 4 kali lipat dari sebelumnya.

“Akar wangi yang semula Rp 7 ribu per kilogramnya, sempat naik sampai Rp 12 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram. Bahkan terkadang bahan bakunya harus rebutan dengan perajin lainnya,” ungkap Huda, Senin (30/3) siang kemarin.

Akibat kenaikan harga bahan baku tersebut, harga kerajinan ATBM dari enceng gondok dan akar wangi tidak lagi sebanding dengan kenaikan harga jual dan upah buruh. Sedangkan dirinya saat itu, tidak memproduksi sendiri.

Di tengah kondisi yang sulit tersebut, Syamsul mencoba kerajinan ATBM dengan bahan kertas koran. Kemudian disusul dengan bahan baku kertas semen. Ternyata kreativitas kerajinan dari limbah kertas tersebut, mengantarkan dirinya menjadi juara lomba desain kerajinan ATBM yang diselenggarakan oleh Inacfraft dan Unesco.

“Dari hasil lomba itu, oleh Unesco saya diberi kesempatan untuk belajar mengelola limbah kertas menjadi kerajinan yang bernilai tinggi di negara Jepang. Waktu itu, tahun 2009,” kata Syamsul.

Setelah mendapat pelatihan desain kerajinan dari Jepang, dia akhirnya membuat beragam desain baru. Kalau selama ini, kerajinan tenun ATBM dari bahan limbah kertas untuk taplak, alas piring dan alas gelas di atas meja makan, kini berkembang menjadi wallpaper, boks tempat perhiasan, hingga bingkai pada kaca cermin. Kerajinan tersebut tidak saja dibuat dari kertas koran yang ditenun, tapi juga dari kertas semen yang kemudian diberi motif batik.

Dari satu kilogram kertas koran seharga Rp 3500 per kilogramnya, bisa ditenun dengan ukuran lebar 35 sentimeter dan panjang 7 meter. Setelah dipotong-potong, bisa untuk kerajinan alas piring atau place meat, menjadi 8 bagian dengan harga Rp 45 ribu hingga Rp 75 ribu, tergantung motif dan selera pasar.

“Dalam sebulan saya butuh 7 sampai 10 ton kertas koran dan 15 ton kertas semen zak biasa. Semua itu, dikerjakan bersama 200 orang karyawan,” lanjutnya.

Hingga akhirnya setiap tahun dirinya selalu diundang untuk pemeran dagang kerajinan ATBM yang terbuat dari limbah kertas di Amerika dan Eropa Timur, khususnya negara Jerman.

“Saat ini kami kesulitan bahan baku, khususnya kertas semen yang mulai sulit dicari. Padahal kertas semen setelah ditenun, hasil tenunannya lebih kuat dibanding kertas koran. Bahkan, bisa dibuat untuk kerajinan apapun, seperti peralatan kantor dan bingkai kaca cermin dan lainnya,” jelasnya. (*/ida)