FLEKSIBEL: Sebuah angkutan kota mencari penumpang di Terminal Temanggung, Senin (30/3). (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
FLEKSIBEL: Sebuah angkutan kota mencari penumpang di Terminal Temanggung, Senin (30/3). (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)

MUNGKID– Sejumlah armada angkutan darat di Kabupaten Magelang mengaku kebingungan dengan naik turunnya harga bahan bakar minyak (BBM). Sehingga, dengan adanya kebijakan kenaikan harga beberapa waktu lalu, Organda mengaku belum bisa bersikap.

“Kami bingung dan butuh kepastian dari pemerintah pusat untuk menyikapi harga BBM yang fluktatif,” kata Ketua DPC Organda Kabupaten Magelang, Muh Iriyanto, Senin (30/1).

Ia meminta pemerintah pusat memberi kepastian dengan menyiapkan mekanisme tarif batas tertinggi harga BBM. Sehingga, para pengusaha bisa menentukan kenaikan tarif angkutan. “Apalagi sekarang harga BBM naik turun dan bikin bingung,” tambah dia.

Sejauh ini, ujarnya, pihak Organda masih menggunakan tarif lama. Hanya saja, jika di lapangan sejumlah penumpang memberikan ongkos lebih karena kenaikan harga BBM ini, pihaknya bersifat fleksibel.

Sebab, kata dia, bagi awak angkutan, kenaikan harga BBM ini menjadi buah simalakama. “Kalau menaikkan tarif sekonyong-konyong sangat tidak mungkin. Ya, kalau di lapangan semuanya fleksibel saja,” ujarnya.

Kandar, salah satu awak angkudes jurusan Muntilan – Kadipuro– Dukun – Sumber Kalibening, mengaku tidak menaikkan tarif. Dia juga mengaku belum ada penumpang yang membayar lebih. “Tarif pelajar Rp 4.000 dan umum Rp 4.500.”

Sementara itu dari Temanggung dilaporkan, akibat kenaikan harga BBM, tarif angkutan umum mengalami penyesuaian. Rata-rata kenaikan sebesar Rp 500.

Kepada koran ini, sejumlah sopir mengaku terpaksa menaikkan tarif penumpang untuk mengimbangi kondisi kenaikan BBM; dan kenaikan harga suku cadang.

Wahono, 45, sopir angkutan jurusan Temanggung-Tembarak, misalnya, menaikkan tarif dari semula Rp 4.000 menjadi Rp 4.500. Hal yang sama juga berlaku untuk tarif pelajar. Dari tarif sebelumnya Rp 2.500 menjadi Rp 3.000. “Kenaikan Rp 500 sangat terasa. Modal kami untuk jalan juga bertambah besar, karena BBM naik, lalu suku cadang di pasaran juga pasti naik. Makanya harus kami naikkan,” kata Wahono.

Kondisi kali ini, menurutnya, berbeda dengan kenaikan sebelumnya yang cuma Rp 200. Ketika itu, para sopir sepakat tidak menaikkan tarif. Meski terjadi kenaikan tarif, Wahono mengklaim penumpang tak mengeluh. Penumpang, kata Wahono, sudah bisa menyesuaikan perubahan tarif.

Hal senada disampaikan oleh Rowo, 50. Sopir jurusan Temanggung-Tlogomulyo itu mengatakan, perubahan tarif angkutan tidak memberatkan penumpang. “Kenaikan ongkos angkutan ini, kami anggap cukup wajar, karena harga BBM sudah naik dua kali. Pertama naik Rp200 per liter dan kedua naik Rp 500 per liter,” katanya.

Ketua Organda Temanggung Supoyo menjelaskan, aturan ongkos angkutan berpedoman pada SK Bupati Temanggung tertanggal 13 Desember 2014. Yaitu, dengan asumsi harga BBM Rp 7.500 per liter, karena harga premium sekarang Rp 7.400 per liter. Artinya, masih dalam koridor SK Bupati Rp 7.500 per liter.

“Waktu itu, turunnya SK Bupati berbarengan dengan penurunan harga BBM dari Rp 7.500 menjadi Rp 6.900 per liter. Lalu, ke angka Rp 6.400 per liter. Namun sekarang malah naik lagi ke harga Rp 7.400 per liter. Jadi, kita masih pakai SK itu, di mana tarif angkutan yang semula turun Rp 500 per penumpang per jalur, sekarang naik lagi Rp 500 per penumpang per jalur,” bebernya.

Rani, 25, seorang penumpang angkudes mengaku tidak keberatan tarif angkutan umum dinaikkan sebagai dampak kenaikan harga BBM.

Untuk diketahui, pemerintah menaikkan harga BBM rata-rata Rp 500 per liter, yakni harga solar dari Rp 6.400 per liter menjadi Rp 6.900 per liter. Juga harga premium RON 88 dari Rp 6.900 per liter menjadi Rp7.400 per liter. (vie/mg3/isk)