SENIMAN TULEN: Murahmi, di usia senja masih setia menjadi pelatih tari. (DOK PRIBADI)
SENIMAN TULEN: Murahmi, di usia senja masih setia menjadi pelatih tari. (DOK PRIBADI)
SENIMAN TULEN: Murahmi, di usia senja masih setia menjadi pelatih tari. (DOK PRIBADI)

Usianya sudah uzur. Namun Murahmi masih tampak trengginas. Ia tetap setia melatih menari bagi anak-anak usia sekolah dasar (SD). Seperti apa?

RICKY DOUGLAS, Wonodri

”JANGAN pernah bosan dan letih untuk mempelajari kesenian Jawa, khususnya tari tradisionalnya, karena kesenian Jawa itu merupakan kesabaran hati. Mbah tuh sering kecewa kalau melihat anak-anak yang malas memperdalam seni Jawa, mereka malah senang dengan modern dance,” tutur Murahmi saat membuka obrolan dengan Jawa Pos Radar Semarang belum lama ini.

Nenek berusia 78 tahun ini adalah penari gaek. Di usianya yang sudah senja, ia tetap mengabdikan dirinya sebagai pelatih tari.

Wanita kelahiran Tegal, 17 Juli 1937 ini mengaku mulai berkecimpung di dunia tari sejak 1972 atau sudah 43 tahun. Namun dari kecil ia memang telah menyukai seni tari, walaupun banyak tantangan yang harus dihadapi karena pada zaman itu Indonesia masih dijajah, hingga membuat masa kecilnya sering hijrah bersama keluarga dari satu daerah ke daerah lainnya.

”Saya hobi menari sejak SD. Di keluarga besar hanya mbah yang suka menari. Kalau masa kecil, mbah suka mengisi acara tari sama anak-anak kampung lainnya pada acara pernikahan,” kenangnya.

Berasal dari Kota Tegal, Mbah Rahmi –sapaan akrabnya— sering berpindah-pindah tempat tinggal. Baru pada 1945, ia menetap di Kota Semarang hingga saat ini. Tepatnya di Jalan Wonodri Baru Atas, Kelurahan Wonodri, Semarang Selatan. Di Kota Atlas, Mbah Rahmi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pelatih tari demi eksistensi kesenian Jawa tersebut.

”Sebelumnya saya pernah ikut sanggar tari dan bergabung di grup wayang orang. Setiap pentas wayang orang, saya jadi penarinya,” ceritanya.

Setelah itu, nenek yang kini telah memiliki 3 anak, 7 cucu, dan 2 cicit ini kerap mengumpulkan anak-anak kampung, lalu melatih mereka menari untuk perayaan HUT Kemerdekaan RI di balai kelurahan.

”Karena kegiatan mbah yang sering melatih anak-anak menari, akhirnya mbah ditawari salah seorang guru SD untuk menjadi pelatih tari di sekolah. Sejak itu, mbah sering melatih anak-anak SD di sekolah-sekolah sekitar Semarang. Mbah juga melatih di taman kanak-kanak,” ujarnya sambil tersenyum ramah.

Selain di sekolah, Mbah Rahmi melatih menari anak didiknya di kediamannya. Ia melatih tari tradisional khususnya tari asal Jateng, di antaranya tari Semarangan, tari klasik Solo, serta tari kreasi baru Jogjakarta. Berkat kegigihannya, banyak siswanya yang memenangkan lomba menari tingkat kota maupun provinsi. Selain itu, tak sedikit anak didiknya mendapat job menari di acara pernikahan, peresmian maupun acara pemkot.

”Ya sudah banyak anak didik saya yang juara lomba menari. Saya bangga juga dengan mereka,” ucapnya.

Mbah Rahmi sendiri tidak hanya melatih menari para siswa SD, namun siapa saja yang berniat memperdalam kesenian Jawa boleh datang ke rumahnya.

”Tidak ada kendala yang berat, karena mbah melakukannya dengan hati senang. Kalau tantangan melatih mungkin bagaimana cara menangani anak-anak yang suka males latihan, kadang mereka juga nakal, hehehe,” tuturnya sambil terkekeh. (*/aro/ce1)