Sempat Dimarahi Polisi, Ubah Dandanan Jadi Kece

332
KREATIF: Boshido Larufatwa saat menjajakan kacang pocong di Tembalang. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Boshido Larufatwa saat menjajakan kacang pocong di Tembalang. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Boshido Larufatwa saat menjajakan kacang pocong di Tembalang. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berbisnis memang harus kreatif. Ini seperti yang dilakukan Boshido Larufatwa. Ia menjual kacang dengan berdandan layaknya pocong. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

DI bawah pohon di Jalan Prof Sudarto, tepatnya di depan kampus Politeknik Negeri Semarang (Polines) Tembalang, setiap malam kecuali hari minggu, bisa kita dijumpai sosok pocong dengan tampilan menarik sedang menjajakan sejumlah dagangan. Ia hanya mengenakan lampu penerangan emergency.

Ya, dialah Boshido Larufatwa, pemuda asal Jakarta yang dibesarkan di Semarang. Ia berjualan kacang dengan cara yang terbilang unik. Dengan menggunakan kostum pocong, ia menjajakan cemilan kacang buatannya secara quick sale mulai pukul 19.00 hingga 22.00.

Boshido mengaku, berbisnis kacang berawal dari kacang pemberian saudaranya. Selanjutnya pada Januari 2014, Boshido, atau kini dikenal dengan sebutan Mas Pocong memulai bisnis kacangnya. Sesuai penampilan si penjual, kacangnya pun ia labeli dengan sebutan kacang pocong.

”Nama ini berawal dari cara pengemasannya. Karena saya tidak ada modal, saya kemas dengan cara mengikat bungkus kacang dengan tali gantugan tas, tali sisa untuk berjualan kaus sebelum usaha kacang ini. Kemudian ide nama pocong pun muncul,” kenang Boshido saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Kacang yang dijajakan Mas Pocong terdiri atas berbagai varian rasa. Yakni, kacang goreng BBQ pedas manis, koro jonggrang (kacang koro yang dicampur kacang kapri), kalur (kacang telur), kwacong atau kwaci ala Mas Pocong (kwaci biji bunga matahari) dan beberapa varian lainnya.

Ia mengakui, saat berjualan menggunakan kostum pocong sempat menemui kendala. Boshido pernah ditegur oleh ketua RW setempat, bahkan juga ditegur oleh anggota polisi karena pernah ada pengendara yang jatuh saat kaget melihat dirinya yang berdandan pocong.

Untuk menyiasatinya, wirausahawan muda ini mengubah tampilannya menjadi lebih kece. Ia mengenakan kostum pocong warna-warni, jas, dasi, dan dilengkapi dengan kacamata hitam. Alhasil, kini penampilan unik, lambaian tangan, dan raut wajah yang selalu semringah membuat lapak Boshido menjadi perhatian setiap pengendara yang lewat.

”Sempat dimarahi Pak RW Mas, tapi setelah saya ubah tampilan saya, sekarang jadi banyak yang suka. Anak kecil juga suka manggil-manggil kalau lewat. Banyak yang minta foto bareng juga sih Mas,” tutur pemuda yang memiliki sampingan sebagai penyanyi kafe ini sambil tersenyum.

Ke depan, Boshido punya obsesi menjadikan kacang pocong sebagai oleh-oleh khas Semarang. Ia ingin memiliki sebuah galeri kacang di Semarang di mana pengunjung dapat menikmati kacang pocong buatannya sekaligus berfoto dengan pocong warna-warni yang disediakan di galerinya.

”Ya, mudah-mudahan impian saya itu bisa tercapai. Sekarang lagi ngumpulin modal dengan jualan di jalan seperti ini,” ucapnya. (*/aro/ce1)