SEMANGAT: Petani di wilayah Kecamatan Dempet hingga kemarin terus berburu tikus. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMANGAT: Petani di wilayah Kecamatan Dempet hingga kemarin terus berburu tikus. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMANGAT: Petani di wilayah Kecamatan Dempet hingga kemarin terus berburu tikus. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Petani di Kabupaten Demak terus melakukan aksinya dalam memburu tikus. Ini dilakukan, karena tikus bisa menjadi ancaman bagi tanaman padi milik petani. Seperti diketahui, sepasang tikus bisa beranak pinak hingga 1.270 ekor setahun.

Kondisi ini pula yang membuat petani selalu gelisah karena tanaman padi milik mereka setiap saat diserang hama pengerat tersebut. Kepala Dinas Pertanian Pemkab Demak Ir Wibowo melalui Sekretarisnya, Wiwin Edi Widodo mengatakan, siklus tikus dalam berkembang biak sangat cepat. Menurutnya, setahun tikus betina bisa melahirkan hingga 4 kali. “Bahkan, tikus dewasa sudah bisa berkembang biak saat umur 2 bulan. Kemudian, tikus itu bisa melahirkan dimulai umur 3 bulan dengan jumlah anak rata-rata 8 ekor/induk sekali melahirkan,” katanya, kemarin.

Sedangkan, dalam kondisi baik, sepasang tikus dalam satu tahun dapat berkembang antara 900 hingga 1270 ekor. Ia menambahkan, dalam sehari setelah melahirkan, tikus sudah siap kawin lagi. Bahkan, masa birahi bisa terjadi antara 4 sampai 5 hari.
Sementara, masa hamil berlangsung selama 21 hari. Kemudian, masa menyusui anak 21 hari. “Yang perlu diwaspadai adalah anak tikus ini sudah mulai menjadi hama pengerat sejak umur 3 minggu. Saat itu juga menjadi ancaman bagi tanaman,” imbuhnya.

Melihat cepatnya tikus beranak pinak, petani diminta untuk selalu bersama-sama memberantas hama tikus supaya tidak meluas dan tidak memakan tanaman para petani. (hib/fth)