KEBAL: Pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa saat unjuk kebolehan dilindas motor dan memecah batu bata di kepala dengan dihantam martil yang digelar di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang kemarin. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEBAL: Pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa saat unjuk kebolehan dilindas motor dan memecah batu bata di kepala dengan dihantam martil yang digelar di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang kemarin. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEBAL: Pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa saat unjuk kebolehan dilindas motor dan memecah batu bata di kepala dengan dihantam martil yang digelar di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang kemarin. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PAGAR NUSA_NURCHAMIM (2)WEB

SIMPANG LIMA – Sejumlah adegan mengerikan, Minggu (29/3) kemarin, dipertontonkan oleh pendekar dari organisasi Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang. Selain atraksi jurus pencak silat, ada pula yang menampilkan atraksi memegang petasan raksasa, dilindas motor, dicambuk punggungnya, dihantam batu besar, hingga lidah dipotong menggunakan pedang.

Tentu saja atraksi yang digelar di sela Akpel Akbar Kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut hanya bisa dilakukan oleh para pendekar Pagar Nusa yang memang mempunyai kemampuan linuwih dalam hal olah kanuragan. Apel akbar kemarin diikuti sedikitnya 3 ribu pendekar PSNU Pagar Nusa. Atraksi kekebalan tubuh ini sebagai bentuk pertahanan menghadapi aksi terorisme dan radikalisme.

Ketua Umum Pencak Silat NU Pagar Nusa, A’izzudin Abdul Rahman, mengatakan, bela diri pencak silat tersebut untuk mengantisipasi dan menghadapi berbagai bentuk ancaman terorisme dan radikalisme yang bisa merusak kesatuan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan refleksi untuk mengingatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk rongrongan NKRI.

”Terus terang saat ini munculnya terorisme menjadi keresahan bagi kami sebagai salah satu Badan Otonom (banon) Nahdlatul Ulama pencak silat NU Pagar Nusa. Kegiatan ini mengingatkan kita untuk bersama-sama menjaga kedaulatan bangsa Indonesia agar tidak mudah dipecah belah,” ungkapnya.

Dia mengatakan, apel akbar tersebut merupakan acara penutup dari rangkaian kegiatan rapat pimpinan nasional (rapimnas) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Azzuhri, Ketileng. Kegiatan penutupan apel dilakukan dengan menggelar doa bersama sebagai permohonan agar bangsa Indonesia dijauhkan dari ancaman terorisme dan diberikan kekuatan untuk melawannya.

”Apel akbar ini diselenggarakan untuk menanggapi situasi dan kondisi bangsa Indonesia yang terus diserang oleh paham radikalisme. Sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia, kita harus terus waspada terhadap segala pengaruh radikalisme supaya tidak terjerumus di dalamnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, menyatakan, akan bekerja sama dengan berbagai elemen termasuk kepolisian dan para rektor untuk membentengi paham terorisme dan radikalisme merambah ke lingkungan kampus.

”Kami meminta untuk memperketat pengawasan terhadap para mahasiswa di berbagai universitas supaya tidak terjerumus pada paham radikalisme dan terorisme. Sebab, kampus adalah wahana untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kampus juga sebagai sarana pengembangan pendidikan yang bisa memberikan nilai-nilai dalam mengembangkan ekonomi Indonesia,” katanya. (mha/aro/ce1)