Bingung Tentukan Tarif Angkutan

164
NAIKKAN TARIF: Sejumlah awak angkutan bus AKDP di Kendal bingung tentukan kenaikan tari. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NAIKKAN TARIF: Sejumlah awak angkutan bus AKDP di Kendal bingung tentukan kenaikan tari. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NAIKKAN TARIF: Sejumlah awak angkutan bus AKDP di Kendal bingung tentukan kenaikan tari. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Kebijakan pemerintah yang kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat berbagai kalangan kebingungan. Terutama bagi pelaku usaha angkutan darat terkait masalah tarif angkutan umum. Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Kendal, Jamaludin mengatakan, harga BBM yang tidak stabil membuat pengusaha angkutan darat bingung dalam menentukan tarif. Padahal untuk menaikkan tarif angkutan umum tidaklah mudah.

Harus melibatkan beberapa unsur, mulai masyarakat, pengusaha angkutan darat, pemerintah dan DPRD. Sehingga tidak bisa pengusaha angkutan umum menaikkan tarif angkutan secara sepihak. “Naik turunnya BBM membuat kami kebingungan,” katanya, kemarin.

Ia menambahkan, kenaikan BBM merupakan yang kali ketiga sejak awal 2015. Sehingga jika ada kenaikan tarif angkutan, pengusaha angkutan umum khawatir akan kehilangan penumpang. “Sebab, kalau harga BBM naik, tarif angutan juga naik. Kalau BBM turun, taruf juga turun. Karena operasional transportasi bergantung pada BBM,” imbuhnya.

Padahal, Organda bersama pihak pemerintah, masyarakat dan DPRD telah memutuskan tidak menaikkan tarif angkutan umum pada bulan lalu. Tapi dengan kenaikan BBM, membuat pengusaha angkutan umum di Kendal kebingungan. Perubahan harga BBM sangat cepat, padahal tarif angkutan juga perlu disesuaikan. “Baru disosialisasikan tarif angkutan naik, tapi disaat yang tidak lama pemerintah membuat menurunkan harga BBM. Praktis pengusaha angkutan mengembalikan tarif angkutan ke harga lama. Nah sekarang mau naik dan berubah lagi,” tambahnya mengeluh.

Pemerintah mestinya bisa membuat perencanaan matang terkait harga BBM bersubsidi. Harga BBM yang terus berubah membuat tarif angkutan umum tidak pasti. Hal itu bakal memacu perang harga antar transportasi umum yang tidak sehat. Di Kabupaten Kendal, selain angkutan umum resmi juga terdapat angkutan umum plat hitam.

Keluhan serupa dikatakan Parjo, salah seorang buruh pabrik di Kendal. Menurutnya, naik turunnya harga BBM membuat para buruh pabrik kebingungan. “Mestinya ketika harga naik, buruh mendapatkan tambahan tunjangan tranportasi dan kenaikan gaji karena harga sembako ikut naik. Tapi belum sampai pabrik menaikkan gaji dan transport, pemerintah menurunkan kembali harga BBM,” katanya.

Ia menambahkan, naik turunnya harga BBM membuat para buruh, petani dan rakyat kecil yang paling banyak merasakan imbasnya. “Terutama kebutuhan yang juga ikut naik, tapi gaji belum naik. Nah masyarakat kecil kan yang dirugikan,” tambahnya. (bud/fth)