PEDULI ANAK JALANAN: Relawan Rumpin Bangjo dan anak jalanan saat menggelar kegiatan. (kanan) Koordinator Rumpin Bangjo, Vivi Maryati. (RUMPIN BANGJO FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

BOKS 1WEB

PEDULI ANAK JALANAN: Relawan Rumpin Bangjo dan anak jalanan saat menggelar kegiatan. (kanan) Koordinator Rumpin Bangjo, Vivi Maryati. (RUMPIN BANGJO FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI ANAK JALANAN: Relawan Rumpin Bangjo dan anak jalanan saat menggelar kegiatan. (kanan) Koordinator Rumpin Bangjo, Vivi Maryati. (RUMPIN BANGJO FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Jika mendengar anak jalanan, tentu yang ada di benak kita adalah anak yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak berpendidikan. Namun anggapan itu seketika berubah ketika telah mengunjungi Rumah Pintar (Rumpin) Bangjo PKBI Jawa Tengah. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL, Kauman

SEKILAS memang tidak ada yang istemewa ketika melintasi Kampung Pungkuran Kelurahan Kauman, Semarang Tengah. Padatnya permukiman penduduk dengan ukuran rumah yang cukup sederhana menjadikan kampung ini sama dengan perkampungan lainnya. Siapa sangka, di tengah-tengah kampung itu berdiri rumah di mana asa para anak jalanan untuk menjadi lebih baik dimulai.

Rumah yang dimaksud adalah Rumah Pintar (Rumpin) Bangjo yang merupakan salah satu program andalan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah. Rumah ini hanya sebagai perpustakaan bagi sejumlah anak jalanan yang ingin membaca. Selebihnya, kegiatan belajar mereka total berada di luar atau di jalanan.

”Banyak kegiatan yang kami lakukan. Ada yang rutin setiap minggu atau berkala. Misalnya, kelompok belajar anak usia dini atau PAUD, kelompok belajar usia sekolah, pendampingan remaja jalanan, maupun latihan olahraga sepakbola setiap minggu,” ungkap Koordinator Rumpin Bangjo, Vivi Maryati kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Vivi –panggilan akrabnya- menceritakan, Rumpin Bangjo didirikan pada 1 Agustus 2010. Berawal dari rasa keprihatinan atas sejumlah anak jalanan yang berada di sekitar wilayah Pasar Johar Semarang, yang jauh dari dunia pendidikan. Banyak di antara mereka yang tidak sekolah dikarenakan terkendala masalah ekonomi.

”Seluruh kegiatan (belajar) dilakukan sore hari. Karena paginya mereka harus mencari uang,” katanya.

Dalam melakukan kegiatannya, lanjut Vivi, tidak langsung berjalan mulus. Banyaknya pertentangan, terutama dari para orang tua, membuat ia bersama teman-temannya merasa tertantang. Setelah memberikan berbagai penjelasan tentang pentingnya pendidikan– tentunya dalam waktu lama- akhirnya para orang tua tersebut menyadarinya.

”Intinya kita tidak boleh merasa paling tahu. Sebaliknya kita harus mampu menjadi bagian dari mereka,” ujar Vivi, yang mengaku jumlah relawan Rumpin Bangjo yang aktif hanya lima orang.

Meski anak jalanan, kemauan mereka untuk belajar sangat tinggi. Saat ini, tercatat jumlah dampingan (istilah anak jalanan yang didampingi) mencapai 75 orang. Mulai anak usia dini hingga menginjak remaja sangat antusias ketika mengikuti pelajaran bersama. Bahkan ada beberapa orang tua yang juga ikut belajar. ”Biasanya kalau orang tua belajar membuat handycraft (kerajinan tangan),” imbuh Vivi yang mengidolakan artis Dik Doank ini.

Selain berhasil mengentaskan mereka dari buta huruf, prestasi lainnya yang patut dibanggakan adalah mampu mengantarkan beberapa anak dampingan mengikuti seleksi street soccer di Jogjakarta, yang selanjutnya dikirim mengikuti turnamen di Brasil.

”Meski belum berhasil, kami ingin menunjukkan bahwa kami juga mampu,” ujar Vivi yang mengaku sering mengajak anak-anak berlatih di GOR Tri Lomba Juang Semarang.

Salah satu hal yang masih ingin Vivi perjuangkan hingga saat ini adalah mendapatkan dokumen kependudukan bagi anak-anak jalanan. Hampir 75 persen tidak memiliki akta kelahiran dan juga tanda pengenal. Hal ini disebabkan keturunan, karena orang tua mereka juga tidak memilikinya. ”Kami ingin memutus rantai itu. Dengan identitas, mereka akan mendapatkan fasilitas kesehatan, dan beasiswa untuk sekolah,” kata penyuka fotografi ini.

Namun usaha tersebut tidak lantas mendapat dukungan dari pemerintah. Bersama sejumlah lembaga yang getol mendampingi anak jalanan, mereka membentuk Forum Peduli Anak Jalanan Semarang. Mereka terus melakukan advokasi kepada Pemerintah Kota Semarang untuk mendapatkan hak anak jalanan.

”Akhir bulan nanti kami dijanjikan bertemu dengan para stakeholder meliputi Dinas Sosial, Kemenag, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan. Semoga mereka benar-benar dilindungi sebagaimana janji pemerintah,” harap gadis yang masih menempuh studi di Jurusan Tasawuf Psikoterapi Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang ini. (*/aro/ce1)