Minyak Curah Tetap Beredar

191
MASIH LARIS: Pedagang di Pasar Ngadirejo Temanggung masih menjual minyak goreng curah yang mulai 27 Maret 2015 dilarang beredar oleh Menteri Perdagangan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
MASIH LARIS: Pedagang di Pasar Ngadirejo Temanggung masih menjual minyak goreng curah yang mulai 27 Maret 2015 dilarang beredar oleh Menteri Perdagangan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
MASIH LARIS: Pedagang di Pasar Ngadirejo Temanggung masih menjual minyak goreng curah yang mulai 27 Maret 2015 dilarang beredar oleh Menteri Perdagangan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)

TEMANGGUNG- Para pedagang di wilayah Temanggung menganggap kebijakan pemerintah pusat hendak melarang peredaran minyak goreng curah sebagai tindakan tak berpihak pada rakyat kecil. Pasalnya, banyak pedagang kecil yang menggantungkan pemasukan dengan minyak jenis tersebut.

Seperti yang disampaikan Ari, 45, pedagang sembako di Pasar Ngadirejo menilai kebijakan tersebut nantinya akan semakin menyusahkan pelanggannya. “Pelanggan minyak goreng di tempat saya kebanyakan pedagang rumah makan kecil juga penjual gorengan pinggir jalan. Kalau mereka harus jualan pakai minyak kemasan kan tidak mungkin. Ya rugilah. Selisih harganya jauh,” ungkap perempuan yang sudah berdagang sejak 20 tahun lalu ini.

Untuk minyak curah, Ari menjual dengan harga Rp 12 ribu per kilogram. Sementara minyak kemasan ia jual Rp 13 ribu per liter. Meski pemberitaan ramai melarang peredaran minyak curah, namun permintaan tidaklah berkurang.

Dalam sehari, Ari bahkan bisa menghabiskan 3 hingga 4 jeriken minyak curah untuk memenuhi permintaan pembeli. Satu jeriken kira-kira dapat diecerkan menjadi 17 kilogram.

Nanik, 24, pedagang lain di Pasar Ngadirejo bahkan malah mengaku baru mendengar rencana pemerintah tersebut. “Saya baru dengar malah. Tapi nyatanya masih banyak juga yang mencari minyak kiloan,” katanya.

Di kiosnya, Nanik mengaku tidak banyak menjual minyak kemasan. Alasannya karena memang tidak banyak yang membeli minyak jenis tersebut.
“Kalau saya sih sebenarnya tidak masalah. Mau ditarik silakan, kalaupun boleh ya silakan. Selama ada pembeli dan ada yang masok ya saya tetep jual,” tandasnya.

Tohar, 35, pengrajin tahu di Kecamatan Temanggung mengaku keberatan apabila pemerintah melarang peredaran minyak goreng curah. Pasalnya apabila dalam proses pembuatan tahu ia harus menggunakan minyak goreng kemasan, sudah pasti dirinya akan rugi. “Solusinya kalau harga tahu dinaikkan nanti malah enggak laku. Makanya saya keberatan sekali,” tandasnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Temanggung, Ronny Nurhastuti mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait dengan Peraturan Menteri Perdagangan tentang pelarangan perdagangan minyak goreng sawit curah tersebut.
Ia mengatakan, larangan menjual minyak goreng curah sudah jelas disebutkan dalam Permen tersebut. Kebijakan itu diberlakukan untuk mencegah berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat menggunakan minyak goreng curah.

“Minyak goreng curah dapat menimbulkan kolesterol dan penyakit lainnya yang membahayakan masyarakat, makanya peredarannya dicabut dengan aturan tersebut,” katanya. (mg3/ton)