Ingin Punya Kebun Binatang dan Ternak Hewan Langka

255
HEWAN KESAYANGAN : Rifky Vipera dengan hewan kesayangannya Musang Temon yang tak akan dijual. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HEWAN KESAYANGAN : Rifky Vipera dengan hewan kesayangannya Musang Temon yang tak akan dijual. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HEWAN KESAYANGAN : Rifky Vipera dengan hewan kesayangannya Musang Temon yang tak akan dijual. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Memelihara binatang sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Namun jika yang dipelihara adalah binatang buas dan cenderung berbaya, tentu hanya segelintir orang yang menggemarinya. Salah satunya Rifky Vipera,‎ 21, bagi warga Perum Gama Permai ‎Jalan Sidomulyo, Kota Pekalongan‎. Seperti apa?

LUTFI HANAFI, Pekalongan

MASUK ke dalam rumah mahasiswa STIMIK jurusan teknologi informasi (TI) ini, serasa di hutan. Bayangkan saja, di dalam rumahnya terbagi dengan kamar kos-kosan mahasiswa, Rifky juga memelihara beberapa hewan unik seperti ular, gecko (sejenis kadal), kucing hutan, musang bulan, tarantula beracun, biawak dan iguana.

“Hewan peliharaan saya sebenarnya masih banyak. Tapi beberapa hewan, saya titipkan ke rumah teman. Sebagian lagi sudah saya jual, setelah saya taruh di kandang luar. Karena musim hujan, tidak mungkin saya kandangkan di luar, kasihan,” ucap mahasiwa semester 4 ini.

Di halamannya yang kecil, ada juga kolam ikan kecil, namun berisi beberapa ikan buas. Seperti ikan alligator asal Amazon yang bermoncong seperti buaya, ikan gabus putih asal Irian dan beberapa jenis ikan pemangsa yang hidup di air tawar.

“‎Ikan ini masih kecil, jadi belum berbahaya. Tapi sudah bisa menggigit. Cuma sekarang masih kecil, tidak masalah. Dulu juga punya piranha, tapi saya pelihara di akurium rumah orang tua,” ucap dia.

Rifky menceritakan, hampir semua hewan langka terutama sejenis mamalia dan reptil pernah dipeliharanya. Seperti buaya, berbagai jenis ular beracun semacam python, maupun sugar gilder (tupai terbang). Bahkan pernah punya 15 ekor musang, namun hanya dua jenis saja. Kini hanya menyisakan satu ekor musang bulan bernama Temon.

Dari semua hewan peliharaannya, hanya dua hewan yang tidak akan dijualnya. Adalah musang bulan berekor panjang yang berwarna emas alias Temon dan kucing hutan. “Saya terlanjur sayang pada dua hewan ini, karena benar-benar memeliharanya sejak bayi. Dulu saat saya beli masih kecil (panjang kurang lebih 30 sentimeter), kini sudah 2 meter. Apalagi setelah menang juara dua kontes musang nasional,” katanya.

Diceritakan Rifky, kebiasaan musangnya memang suka menggigit apa saja yang ada di sekitarnya. Kadang gigit kuping, tangan, dan lengan saya. “Tapi nggak apa-apa, cuma gigitan bercanda,” ujar dia.

Meski hanya gigitan bercanda, pria yang bergabung dalam banyak komunitas pecinta hewan liar itu mengaku pernah beberapa kali berdarah akibat gigitan Temon, musang kesayangannya itu. “Kalau digigit, biasa saja hampir setiap hari. Bahkan sudah lupa tidak terhitung. Kalau sampai berdarah sekitar lima kali,” ujar dia.

Gigitan Temon yang membuat tangan majikannya berdarah itu, tidak membuatnya kapok. Sebaliknya, dia justru makin sayang kepada hewan omnivora tersebut.

Untuk makanan hewan kesayangannya, diakuinya, memang butuh uang ekstra. Kalau untuk hewan reptile makannya masih mudah karena tidak setiap hari. Namun khusus mamalia, butuh makan setiap hari.

Kalau untuk musang dari pagi sampai siang menghabiskan pisang satu sisir dan malam hari makan rebusan kepala atau sayap ayam. Sedang kucingnya sehari makan kepala ayam rebus. Untuk dua hewan itu saja, dirinya hanya mengeluarkan uang Rp 10 ribu perhari. Namun jika butuh makanan alternative bisa lebih. Setiap dua bulan, binatang kesayangannya itu diberikan vaksin dan vitamin. Karena pernah kena penyakit distemper, sejenis penyakit berkurangnya nafsu makan.

Uang untuk memelihara hewan, didapat Rifky dengan jual beli hewan. Selain bisa untuk beli koleksi baru, juga untuk biaya makan. ‎”Kalau yang lain, saya jual. Kecuali yang musang bulan ini, not for sale. Sebelum menang kontes, pernah ditawar Rp 1,5 juta tapi nggak saya lepas,” ujarnya.
‎Wakil Ketua Komunitas Musang Batik Pekalongan (Mustika) itu menjelaskan, setiap hari Minggu rutin melakukan pertemuan pecinta musang. ‎”‎Biasanya kami bertemu dengan berpindah-pindah tempat. Kadang di Jalan Mataram, Jetayu, atau di Lapangan Kedungwuni‎,” ujar dia.

Dirinya mengaku bisa cinta dengan hewan, karena sejak kecil sudah dibiasakan oleh keluarganya. Terutama kakeknya. Yakni, sejak belia sudah diberi hewan peliharaan berupa ular. Sehingga menghadapi hewan buas, dirinya sudah terbiasa. Dia juga sering diundang ke Taman Safari Indonesia Cabang Batang untuk unjuk aksi kemampuannya dalam menaklukkan hewan buas serta mempertontonkan aksi hewan peliharaannya.
Rifky memiliki cita-cita untuk melakukan breeding (ternak, red) hewan-hewan yang dinilai langka di alam liar. “Baru berhasil breeding ular dan musang. Kemarin sudah berhasil musangnya melahirkan dua ekor, tapi sudah terjual,” kata dia.

Ikan aligator yang ada di dalam kolam depan rumahnya, rencananya akan diternak untuk menambah koleksi. Dia juga berencana, akan membangun kebun binatang mini di dalam kediamannya. Selain untuk koleksi, juga untuk sarana ilmu pengetahuan. (*/ida)
Sejak Kecil Biasa Pelihara Binatang Buas