DIEVAKUASI: Jenazah Purwanti dan Bayinya yang diduga tewas akibat kehabisan darah saat melahirkan dievakuasi oleh aparat Polsek Gemuh, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIEVAKUASI: Jenazah Purwanti dan Bayinya yang diduga tewas akibat kehabisan darah saat melahirkan dievakuasi oleh aparat Polsek Gemuh, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIEVAKUASI: Jenazah Purwanti dan Bayinya yang diduga tewas akibat kehabisan darah saat melahirkan dievakuasi oleh aparat Polsek Gemuh, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Nahas. Itulah yang dialami Purwanti, 25, warga Desa Sedayu RT 1 RW 2, Kecamatan Gemuh, Kendal. Betapa tidak, korban ditemukan tewas membusuk di dalam kamar tidurnya. Kuat dugaan, korban tewas akibat kehabisan tenaga dan pendarahan saat melahirkan.

Dugaan ini dikuatkan dengan ditemukannya mayat bayi perempuan yang masih diselangkangan korban. Saat ditemukan mayat korban dalam posisi terbaring di tempat tidur dengan tangan dan pakaian berlumuran darah. Sementara kemaluan korban nampak bayi perempuan yang keluar kepalanya. Saat ditemukan kondisi bayi juga sudah tewas.

Sebab diduga korban sudah meninggal tiga hari lalu. Bahkan kondisi mayat ibu dan anak kondisinya sudah mulai membusuk dengan badan belum keluar alias masih tersebut pada kemaluan mayat Purwanti.

Dua mayat itu kali pertama ditemukan Ahmad Sapari. Awalnya ia mengaku curiga karena korban sudah tidak keluar beberapa hari dari rumah. Penasaran, ia mencoba masuk ke rumah untuk memastikan kondisi Purwanti. “Tapi pintunya terkunci, akhirnya saya masuk lewat jendela samping,” katanya, Jumat (27/3).

Betapa kaget saat sudah masuk, ternyata melihat korban sudah tidak bernyawa dan terlentang di kamar tidur dengan kondisi berlumur darah. Di bawah korban, terdapat sosok mayat bayi berjenis kelamin perempuan yang masih menempel ari-ari. “Saya kaget banyak darah, dan bayi itu belum sempurna keluar,” imbuhnya.

Sapari lantas melaporkan kejadian itu kepada aparat desa untuk dilanjutkan ke Polsek Gemuh. Petugas yang datang ke lokasi langsung mengevakuasi mayat korban dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Selain itu sejumlah saksi juga langsung diminta ketarangan. “Saya tidak berani berbuat apa-apa, karena kondisinya sudah membusuk. Jadi, saya lapor ke desa dan polisi,” tambahnya.

Korban Purwanti diketahui bukan warga sekitar, melainkan warga Desa Gebang RT 3 RW 5, Kecamatan Gemuh. Ia sengaja tinggal di rumah Sarminah yang merupakan bibi korban. “Ia baru pindah sejak dua bulan lalu,” kata Kumiti, 49.

Saat pindah, korban dalam keadaan hamil tua. Namun, warga sekitar tidak mengetahui siapa suami korban. Warga setempat mengaku tidak mendengar suara tangis bayi. Sehingga, tetangga tidak menaruh curiga. “Tidak tahu suaminya siapa, karena warga sekitar juga tidak pernah melihat suaminya pulang ke rumah atau menjenguk korban,”imbuhnya.

Tetangga korban, Warniti mengaku, tidak mengetahui jika korban melahirkan tanpa pertolongan. Justru para tetangga menduga korban pulang ke rumah orang tuanya di Desa Gebang. “Tahunya warga pulang ke kampungnya. Karena rumah sepi dan korban tidak pernah keluar rumah,” katanya.

Kapolsek Gemuh, AKP I Wayan Suprapta mengatakan mayat korban dievakuasi dan dibawa ke rumah duka di Desa Gebang. Dugaan kuat korban tewas karena kehabisan darah saat melahirkan. “Saat ditemukan kondisi korban sudah membusuk, diperkirakan sudah tiga hari tewas. Kasus ini masih dalam penyelidikan,” katanya. (bud/fth)